Page 117 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN18 DESEMBER 2020
P. 117
Parwitasari Saronto dalam Webinar "Kemitraan dalam Peningkatan Peluang Ekonomi Kaum
Muda", Kamis.
Menurut Mahatmi, hal itu penting karena tantangan ke depan adalah tidak hanya menciptakan
lapangan kerja yang berkualitas, tetapi juga membuat generasi tenaga kerja yang fleksibel dan
adaptif.
Apalagi, ia mengingatkan bahwa perkembangan teknologi akan menciptakan jenis pekerjaan
baru yang produktif dalam jumlah besar.
Dengan demikian, lanjutnya, bila tidak adanya keahlian yang memadai, khususnya bagi generasi
muda, maka berpotensi produktivitas stagnan sehingga sukar pula bersaing dengan negara-
negara lain.
Mahatmi juga mengingatkan adanya perubahan budaya di mana semakin banyak warga yang
menikmati fleksibilitas dalam bekerja, seperti fenomena WFH, sehingga semakin banyak pula
waktu untuk keluarga dan aktivitas berolahraga guna membuat kehidupan semakin seimbang.
Pembicara lainnya, Chief Technology Officer (CTO) Kerjabilitas.com Tety Sianipar mengingatkan
bahwa soft skills atau keahlian adaptif lebih penting dibandingkan hard skills atau keahlian teknis
agar bisa lebih sukses di jalur pekerjaan formal.
Selain itu, ujar dia, tantangan yang ada pada era globalisasi, khususnya bagi generasi muda
yang kemampuan ekonominya tidak kuat, adalah akses kepada jaringan internet yang bagus
dan konsisten.
Direktur Pusat Kajian Kepemudaan UI Rissalwan Habdy Lubis menuturkan, kualitas jaringan
internet yang tidak memadai dapat menghalangi kaum muda mendapatkan pengetahuan dan
pelatihan yang selaras dengan perubahan zaman, serta membuat semakin terhalang akan
beragam informasi terkait peluang kerja yang bermanfaat bagi mereka.
Pada saat ini, menurut Rissalwan, ada ruang yang besar yang dapat dilakukan berbagai pihak
untuk membantu mendorong anak-anak muda agar terdorong menjadi wirausahawan.
Ekonom Indef, Bhima Yudistira juga mengakui bahwa pada saat ini masih belum banyak anak
muda yang ingin menjadi wirausahawan yang perlu menjadi fokus dari kebijakan pemerintah
dan berbagai pihak terkait.
"Pemda punya balai latihan kerja yang seharusnya terintegrasi dengan program-program
pemerintah pusat," katanya.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan syarat-syarat utama
dalam rangka mencapai Visi Indonesia 2045 yaitu menjadi negara berpendapatan tinggi, di
antaranya adalah tersedianya SDM yang berkualitas baik dari kemampuan karakter maupun
keahlian.
Hal tersebut, ujar Sri Mulyani, mengingat Indonesia memiliki bonus demografi yaitu 52 persen
dari total 309 juta penduduk berusia produktif.
Oleh sebab itu, lanjut Menkeu, pemerintah terus melakukan reformasi di bidang pendidikan agar
adanya bonus demografi menimbulkan dampak positif terhadap faktor produksi yang produktif
dan inovatif.
116

