Page 434 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 4 OKTOBER 2021
P. 434

dan  menghirup  gas  beracun.  Banyak  pula  kecelakaan  akibat  cedera  seperti  cedera  otot  dan
              cedera  karena  gerakan  repetitif.  Untuk  menekan  kasus  kecelakaan  kerja,  Kemnaker  gencar
              melakukan upaya preventif dan promotif.

              Upaya pro motif dilakukan dengan mengadakan pendidikan dan pelatihan mengenai K3. Adapun
              tindakan  preventif  dilakukan  dalam  bentuk  isolasi  pada  operasi  atau  sistem  yang
              membahayakan, misalnya sistem pen campuran bahan kimia berisiko, dan pengoperasian mesin
              yang sangat bising.

              "Kami juga menyerukan substitusi bahan yang lebih berisiko dengan bahan yang kurang berisiko
              atau tidak berisiko sekalipun. Juga harus adanya pengadaan ventilasi umum untuk mengalirkan
              udara. Yang terpenting, menggunakan alat pelindung diri," ia memaparkan.

              Haiyani  mengakui,  masih  banyak  pelaku  industri  yang  bandel  dalam  penerapan  protokol
              pencegahan K3.

              Hasil  pengawasan  pada  2019  menemukan  ada  21.613  perusahaan  melakukan  pelanggaran
              norma K3.

              Angka  tersebut  dinilai  tinggi  sehingga  Kemnaker  kini  fokus  mengejar  penurunan  angka
              perusahaan tak patuh norma K3.

              "Tindakan  Kemnaker  menanggulangi  perilaku  tersebut,  yaitu  berupa  sosialisasi,  training,
              pengawasan,  pemberian  saran,  pembinaan,  penegakan  hukum,  hingga  pemberian  reward/
              punishment,"ia menegaskan.

              PR lainnya adalah perlindungan bagi pekerja informal. Kelompok ini juga berhak memperoleh
              perlindungan agar terhindar dari penyakit akibat kerja (PAK) maupun kecelakaan kerja lain nya.
              Hak ini jelas diatur dalam UU No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Namun, hingga kini
              belum ada model perlindungan yang tepat, maka kolaborasi dapat dijadikan sebagai model untuk
              mencapai tujuan tersebut.

              "Dalam  kolaborasi  itu  dibutuhkan  keterlibatan  dari  berbagai  pihak  seperti  pemerintah,
              perusahaan melalui CSR, perguruan tinggi, LSM, masyarakat umum, dan masyarakat pekerja,"
              pungkasnya.

              Jumlah kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan dari kalangan pekerja informal memang masih kecil.

              Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan, Anggoro Eko Cahyo, menyebut hal ini karena rendahnya
              kesadaran  tentang  pentingnya  perlindungan  jaminan  sosial  ketenakerjaan.  Jaminan  sosial  di
              pahami  sebagai  suatu  biaya,  bukan  kebutuhan.  Apalagi,  iuran  pekerja  informal  ditanggung
              sepenuhnya oleh setiap pekerja, sementara pekerja formal yang mendapatkan kontribusi iuran
              dari  pemberi  kerja.  Untuk  merangkul  pekerja  informal  atau  pekerja  mandiri,  BPJS
              Ketenagakerjaan menawarkan tiga program, yaitu Jaminan  Kecelakaan Kerja (JKK),  Jaminan
              Kematian (JKM), dan Jaminan Hari Tua (JHT).

              Adapun iuran paling rendah untuk dua program yakni JKK dan JKM sebesar Rp16.800, serta
              iuran  paling  rendah  untuk  tiga  program  JKK,  JKM  dan  JHT  sebesar  Rp36.800.  Di  kasus
              kecelakaan kerja, ada yang namanya penyakit akibat kerja (PAK).

              Soal  penyakit  ini,  masih  banyak  pekerja  yang  mengklaim  biaya  ke  BPJS  Kesehatan.  Maka,
              Anggoro  mengimbau  kasus-kasus  ini  dilaporkan  ke  BPJS  Ketenagakerjaan  sehingga  dapat
              ditindaklanjuti penanganannya. Ini sesuai Peraturan Presiden Nomor 7/2019 tentang PAK.





                                                           433
   429   430   431   432   433   434   435   436   437   438   439