Page 295 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 3 NOVEMBER 2020
P. 295

DEWAN PENGUPAHAN: TIDAK ADA DEADLOCK PEMBAHASAN REKOMENDASI UPAH
              MINIMUM 2021
              Dewan Pengupahan Nasional menegaskan, tidak ada deadlock dalam pembicaraan rekomendasi
              penetapan upah minimum di Dewan Pengupahan Nasional. Wakil Ketua Dewan Pengupahan
              Nasional Adi Mahfudz menyebut, telah dilakukan dialog nasional dewan pengupahan baik tingkat
              provinsi, kabupaten dan kota yang dilakukan pada 15 Oktober - 17 Oktober 2020 di DKI Jakarta,
              sebelum diterbitkannya SE Menteri Ketenagakerjaan tentang upah minimum tahun 2021.

              "Tidak ada deadlock , enggak ada," ujar Adi dalam konferensi pers virtual, Senin (2/11).

              Adi mengatakan, rekomendasi dari unsur pengusaha bahwa upah minimum 2021 sama dengan
              upah  minimum  2020,  terutama  yang  terdampak  covid-19.  Adapun  rekomendasi  dari  serikat
              pekerja/serikat buruh (SP/SB) upah minimum dikembalikan kepada dewan pengupahan provinsi,
              kota dan kabupaten.

              Seperti  diketahui,  pemerintah  telah  menerbitkan  Surat  Edaran  Menteri  Ketenagakerjaan  No
              M/11/HK.04/X/2020 tentang Penetapan Upah Minimum Tahun 2021 Pada Masa Pandemi Covid-
              19, tertanggal 26 Oktober 2020. Setelah diterbitkan SE itu,sejumlah daerah menaikkan upah
              minimumnya seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, dan DI Yogyakarta.

              Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani menyesalkan sejumlah
              daerah yang menaikkan upah minimum. "Kami menyayangkan para gubernur yang menaikkan
              upah  minimum,"  kata  Hariyadi  saat  konferensi pers,  Senin  (2/11).Hariyadi  menilai,  gubernur
              yang menaikkan upah minimum kurang memahami esensi adanya upah minimu. Seharusnya,
              gubernur melihat kondisi yang ada dimana pengusaha mengalami kesulitan ditengah pandemi
              covid-19. Hal ini terlihat dengan adanya ketidakseimbangan permintaan dan penawaran ditengah
              pandemi covid-19.

              "Boro-boro penangguhan, masih bisa menjaga jumlah tenaga kerja nya aja udah untung karena
              sebagian besar dari mereka memberikan gaji pun sudah tidak penuh. Kondisi pandemi ini sudah
              melumpuhkan sektor riil," ujar dia.

              Lebih  lanjut  Hariyadi  mengatakan,  terdapat  perbedaan  pandangan  bagaimana  melihat  upah
              minimum antara pengusaha dan serikat buruh. Pengusaha melihat bahwa upah minimum adalah
              jaring pengaman sosial yang paling dasar, dan harus diikuti oleh semua pemberi kerja untuk
              pekerja yang baru. Sementara, serikat buruh melihat bahwa upah minimum seperti upah rata-
              rata.

              "Nah ini yang sebetulnya kurang pas. Karna kalau kita bicara jaring pengaman sosial itu yang
              paling bawah memang harus diikuti semuanya," ujar dia.

              Hariyadi menyebut, pembahasan upah minimum di Dewan Pengupahan Nasional sudah jelas.
              Yakni berdasarkan kondisi yang sedang terjadi.
              "Kalau kita mengikuti dewan pengupahan nasional, sebetulnya posisinya sudah sangat jelas,
              posisi Pemerintah dan posisi Apindo banyak yang seiring karena memang pakai fakta dan data
              yang ada," jelas Hariyadi.

              Editor: Khomarul Hidayat.








                                                           294
   290   291   292   293   294   295   296   297   298   299   300