Page 262 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 21 JULI 2021
P. 262

Klaster pabrik ini kemudian berimbas pada munculnya klaster hunian. Menurut Dian, sebagian
              besar buruh tersebut tinggal di wilayah padat penduduk.
              Sebetulnya, kata Dian, tuntutan kerja yang dihadapi para buruh ini menjadi jauh lebih berat
              bahkan sejak awal tahun 2021, sebelum berlakunya PPKM Darurat. Implementasi Omnibus Law
              UU Cipta kerja disinyalir jadi faktor utama yang memperburuk situasi mereka.

              "Dengan merujuk UU Cipta Kerja, sejumlah perusahaan TGSL telah mengubah sistem kerja dari
              pekerja tetap menjadi pekerja borongan. Pekerja ini kehilangan fasilitas upah tetap, kepesertaan
              BPJS Ketenagakerjaan dan Kesehatan. Akhirnya mereka memaksa diri terus bekerja karena takut
              kehilangan upah," pungkasnya.
              Atas dasar itu, gabungan serikat pekerja sektor manufaktur menuntut pemerintah memastikan
              perlindungan hak atas kesehatan dan hak pekerja.

              Selain itu, pemerintah diharapkan memberikan sanksi tegas pada perusahaan yang melakukan
              pelanggaran PPKM Darurat, dengan mewajibkan pekerja bekerja namun tidak memfasilitasi APD
              hingga akses kesehatan.

              "Kami juga menuntut pemerintah melakukan moratorium pelaksanaan Omnibus Law UU Cipta
              Kerja selama pandemi berlangsung. Sanksi tegas pengusaha yang melakukan PHK, merumahkan
              tanpa upah, ataupun memotong upah," tutur Dian Trisnanti.


















































                                                           261
   257   258   259   260   261   262   263   264   265   266   267