Page 4 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 21 JULI 2021
P. 4

Kendati  sudah  memerah  buruh  habis-habisan,  perusahaan  pun  ogah  mengongkosi  biaya  tes
              COVID-19 yang biayanya ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Akibatnya, buruh harus merogoh
              koceknya yang pas-pasan itu bila hendak melakukan tes PCR atau tes antigen.

              Kondisi  kerja  para  pegawai  pun  semakin  memprihatinkan  akibat  Undang-Undang  Nomor  11
              tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Pasca beleid itu disahkan, banyak perusahaan yang mengubah
              status kepegawaian dari pekerja tetap menjadi pekerja kontrak atau borongan.

              Walhasil, sistem penggajian pun berubah menjadi sistem harian sehingga karyawan-karyawan
              tersebut  kerap  kali  memaksa  diri  tetap  bekerja  agar  penghasilan  tak  berkurang.  Selain  itu,
              mereka juga kehilangan fasilitas BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan.
              Dalam  kesempatan  berbeda,  Sekretaris  Jenderal  Gabungan  Serikat  Buruh  Indonesia  (GSBI)
              Emelia  Yanti  Siahaan  dan  Wakil  Ketua  Federasi  Serikat  Buruh  Persatuan  Indonesia  (FSBPI)
              Jumisih  mengatakan  banyak  buruh  yang  memaksakan  diri  untuk  masuk  padahal  sudah
              mengalami  gejala  COVID-19  atau  bahkan  sudah  jelas  terpapar.  Alasannya,  mereka  khawatir
              dipecat atau penghasilan mereka berkurang bila tidak bekerja.

              “Yang terpapar COVID-19 ada yang tetap masuk bekerja karena takut di-PHK, takut kehilangan
              pekerjaan yang akan berakibat kehilangan nafkah bagi keluarga. Hal ini terjadi karena beban
              kerja produksi cukup tinggi sementara mereka adalah buruh kontrak,” kata Jumisih pada Senin
              (19/7/2021).

              Kondisi itu tidak cuma mengakibatkan petaka bagi pegawai, tetapi juga keluarganya dan orang-
              orang di sekitarnya. Para pegawai pabrik kebanyakan tinggal di pemukiman padat penduduk.
              Akibatnya, COVID-19 yang mereka peroleh dari pabrik terbawa ke rumah mereka dan menular
              ke keluarga, selanjutnya menular ke tetangga-tetangga di pemukiman mereka.

              “Karenanya  kami  menuntut  pemerintah  RI  memberi  sanksi  tegas  pada  perusahaan  yang
              melakukan  penyelewengan  dan  pelanggaran  PPKM  Darurat  dengan  mewajibkan  pekerjanya
              terus bekerja tanpa APD, tanpa fasilitas kesehatan, dan memaksa mereka bertanggung jawab
              sendiri," kata aliansi serikat dalam keterangan tertulisnya.

              Kabupaten Karawang, Jawa Barat adalah salah satu sentra industri terbesar di Indonesia dan
              kini menyandang status zona merah dari Satgas COVID-19. Per 19 Juli 2021, terdapat 403 kasus
              terkonfirmasi COVID-19 di Karawang, bahkan pernah mencapai 1.106 kasus pada 8 Juli 2021.

              Bupati  Karawang,  Cellica  Nurrachadiana  menyebut  biang  keladinya  adalah  klaster  industri.
              Menurutnya, masih banyak perusahaan yang bandel tidak menerapkan kewajiban work form
              home yang diatur oleh pemerintah.

              Senada  dengan  yang  dikatakan  buruh  hari  ini,  Kepala  Dinas  Kesehatan  Karawang,  Endang
              Suryadi pada Minggu (11/7/2021) mengatakan, virus yang diperoleh di tempat kerja, dibawa
              pulang dan mengakibatkan klaster keluarga.
              “Setelah dievaluasi, klaster industri dan klaster keluarga yang paling banyak menyumbangkan
              kasus COVID-19 di Karawang,” kata Bupati Cellica pada Selasa (13/7/2021).

              Hal yang sama terjadi di daerah lain. Pada 8 Juli 2021, petugas gabungan menggerebek pabrik
              garmen PT Yongjin yang terletak di Kabupaten Sukabumi. Hasilnya, karyawan yang berjumlah
              5.000 orang harus berkerumun saat masuk dan keluar, fasilitas cuci tangan minim, dan tempat
              istirahat karyawan tidak memenuhi protokol kesehatan.

              Di  Solo,  seorang  pegawai  pabrik  garmen  meninggal  dunia  saat  menjalani  isolasi  mandiri.
              Setelahnya  dilakukan  tracing  di  pabrik  melalui  rapid  antigen,  awalnya  didapati  54  karyawan
              positif COVID-19 dan jumlah itu melonjak menjadi 148 karyawan positif.

                                                            3
   1   2   3   4   5   6   7   8   9