Page 335 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 17 MEI 2021
P. 335

Ringkasan

              Hingga  satu  hari  sebelum  Lebaran,  Posko  Pengaduan  Tunjangan  Hari  Raya  (THR)  masih
              mencatat  begitu  banyak  kendala  pembayaran  yang  belum  terselesaikan.  Skema  cicilan  yang
              diijinkan pemerintah, juga dijalankan tanpa memenuhi syarat yang ditetapkan. Sejak 29 April
              2021, posko pengaduan THR telah menerima laporan melalui survei daring untuk memetakan
              persoalan ini. Posko itu sendiri dikelola oleh YLBHI, PSHK, LBH Jakarta, Konfederasi Persatuan
              Buruh Indonesia (KPBI), dan Federasi Serikat Buruh Persatuan Indonesia (FSBPI).



              THR BURUH MASIH TERKENDALA HINGGA H-1 LEBARAN

              VOA -  Hingga satu hari sebelum Lebaran, Posko Pengaduan Tunjangan Hari Raya (THR) masih
              mencatat  begitu  banyak  kendala  pembayaran  yang  belum  terselesaikan.  Skema  cicilan  yang
              diijinkan pemerintah, juga dijalankan tanpa memenuhi syarat yang ditetapkan.

              Sejak 29 April 2021, posko pengaduan THR telah menerima laporan melalui survei daring untuk
              memetakan persoalan ini. Posko itu sendiri dikelola oleh YLBHI, PSHK, LBH Jakarta, Konfederasi
              Persatuan Buruh Indonesia (KPBI), dan Federasi Serikat Buruh Persatuan Indonesia (FSBPI).

              Ketua Departemen Buruh Perempuan, Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI), Dian Septi
              Trisnanti, dalam tangkapan layar.

              Dian Septi, Rabu (12/5), dalam paparan kepada media mengatakan persoalan THR di kalangan
              Pekerja Rumah Tangga (PRT) termasuk dalam laporan yang mereka susun. Pemerintah sendiri
              belum memberi kewajiban kepada pemberi kerja atau majikan untuk menyediakan THR bagi
              PRT.

              "Responden  survei  berasal  dari  50  perusahaan,  dengan  19  sektor  usaha.  Ditambah  pekerja
              rumah tangga di 22 kabupaten di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Nusa Tenggara,"
              kata Dian.

              Pekerja pabrik sepatu berjalan pulang setelah pulang kerja, di kawasan industri Pasar Kemis di
              Tangerang 14 Agustus 2014. (Foto: Reuters/Beawiharta) Dari data yang ada, Dian membeberkan
              ada 13,28 persen responden buruh yang besaran THR dibayarkan sesuai ketentuan, tetapi dicicil.
              Sebanyak  15,4  persen  menerima  THR  dengan  tidak  dicicil,  tetapi  besarannya  dikurangi.
              Selanjutnya 3,3 persen THR dibayarkan secara dicicil dan besarannya jika diakumulasikan kurang
              dari  ketentuan.  Sedangkan  2,4  persen  responden  buruh  melaporkan  menerima  THR  hanya
              berupa bingkisan dan 17,1 persen tidak menerima mendapat THR sama sekali.

              Jika dijumlahkan, maka sekurangnya ada 52 persen responden buruh yang menyatakan hak THR
              mereka  tidak  dipenuhi  sesuai  Permenaker  6/2016.  Dari  jumlah  itu,  30  persen  adalah  buruh
              perempuan dan 22 persen laki-laki.

              Menaker Ida Fauziyah (tengah) meninjau Pos Pengaduan THR di Tangerang, Banten, Selasa, 11
              Mei  2021.  (Foto:  Courtesy/Humas  Kemnaker)    "Dengan  demikian,  terdapat  kecenderungan
              bahwa perempuan menjadi pihak yang lebih terdampak pelanggaran hak THR," tambah Dian.

              Buruh, kata Dian, menuntut perlindungan yang lebih dari pemerintah. Karena ekonomi Indonesia
              didorong  oleh  konsumsi,  maka  THR  menjadi  penting  karena  akan  membantu  pemulihan
              ekonomi.  Insentif,  lanjut  Dian,  jangan  diberikan  kepada  pengusaha saja,  tetapi  juga kepada
              buruh.

              Pemerintah juga diharap bersikap tegas kepada perusahaan yang melanggar ketentuan terkait
              THR.  Jika  ada  kasus  perusahaan  tidak  mampu  membayar  penuh,  lanjut  Dian,  seharusnya

                                                           334
   330   331   332   333   334   335   336   337   338   339   340