Page 266 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 10 MEI 2021
P. 266

BURUH TOLAK THR DICICIL

              JAKARTA - Meski pandemi masih melanda dan pemerintah menyatakan resesi, tidak seluruh
              sektor usaha terdampak. Karena itu, buruh berharap pembayaran Tunjangan Hari Raya (THR)
              tunai  dibayarkan  sebelum  Lebaran.  Buruh  meyakini,  tetap  ada  perusahaan  yang  beroperasi
              normal meski di tengah pandemi. Setidaknya itu dialami oleh Wahyu Aji Purwoko, di Salatiga,
              Jawa Tengah. Kepada VOA dia mengaku, sejak awal COVID-19 melanda, perusahaan tempatnya
              bekerja tidak terdampak.

              "Soalnya kerjanya itu tetap sama, pandemi atau tidak. Tetap ada lemburan, tetap ada kerjaan,
              temen-temen lemburnya juga sampai malam. Buruh baru juga tetap ada, maksudnya terus ada
              lowongan," ujar Wahyu yang juga pengurus Federasi Serikat Buruh Persatuan Indonesia (FSBPI),
              dikutip dari voaindonesia.com.

              Tahun ini, ujarnya, bahkan tidak banyak terdengar pemutusan hubungan kerja di pabrik-pabrik
              di  Jawa  Tengah,  seperti  halnya  di  awal  pandemi.  Karena  itulah,  Wahyu  berharap  proses
              pembayaran  THR  Lebaran  tahun  ini  lebih  lancar.  Sayangnya,  Menteri  Tenaga  Kerja  justru
              mengeluarkan  Surat  Edaran  (SE)  Menaker  Nomor  M/6/HK.04/IV/2021.  Kebijakan  tentang
              pemberian THR tahun 2021 bagi pekerja atau buruh ini dinilai berpotensi melanggar hak-hak
              buruh. Ada kekhawatiran, banyak perusahaan memanfaatkan SE Menaker tersebut sebagai dalih
              mengurangi hak-hak buruh di tegah pandemi COVID 19.

              Namun di Jawa Tengah, kabar mengenai THR yang dicicil ini sudah mengemuka di sebagian
              wilayah. Karena itulah, LBH Semarang dan sejumlah serikat buruh mendirikan posko khusus
              untuk memantau persoalan ini hingga Lebaran nanti. Selain LBH Semarang, mereka yang terlibat
              adalah Kasbi Jateng, FSPIP-Kasbi, Federasi Serbuk Indonesia, FSBPI, FSPRIN, SP PUBG, dan SP
              Danamon Posko dibuka hingga 15 Mei 2021.

              "Kami akan menindaklanjuti setiap laporan yang masuk," ujar Wahyu.

              Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jawa Tengah sendiri sudah memperkirakan bahwa
              20 persen dari total 1600-an perusahaan di wilayah itu akan mencicil THR kali ini. SE Menaker
              membuka  kesempatan  itu,  tetapi  dengan  syarat  bahwa  buruh  menyetujuinya.  Perusahaan
              bahkan harus menunjukkan laporan keuangan sebagai salah satu syaratnya.

              Tentu saja tidak semua buruh bisa menerima cicilan pembayaran THR. Ribuan buruh di PT Pan
              Brothers, di Boyolali, Jawa Tengah misalnya, pada Rabu, 5 Mei 2021 melakukan aksi unjuk rasa
              terkait  hal  ini.  Dalam  keterangan  resmi  tertanggal  6  Mei,  perusahaan  menyatakan  terpaksa
              mencicil  THR  karena  arus  kas  yang  terganggu.  Direksi  juga  menyanggupi  pembayaran  THR
              secara dicicil maksimal lima kali.

              Demo serupa juga dilakukan ratusan buruh PT Eco Smart Garment Indonesia pada 6 Mei 2021.
              Sementara di Brebes, Jawa Tengah, ratusan buruh PT Agung Pelita Industrindo (API) protes
              karena THR yang diberikan perusahaan hanya Rp50 ribu. Dian Septi dari FSBPI (Federasi Serikat
              Buruh  Persatuan  Indonesia)  mencatat,  sejumlah  laporan  yang  masuk  ke  federasi  terkait
              pembayaran THR.

              "Ada yang dicicil, ada yang tunai tetapi kurang dari satu bulan gaji, ada yang dicicil dan jika
              diakumulasikan  sama  dengan  satu  uang  gaji,  ada  yang  tidak  mendapatkan  THR.  Semuanya
              totalnya  51,5  persen  terkendala  terkait  THR  dalam  hal  pembayarannya,  dan  yang  sesuai
              Permenaker 49,5 persen," kata Dian terkait data yang sudah masuk.

              Dengan data itu, jumlah perusahaan yang bisa menunaikan pembayaran THR sesuai aturan yang
              ada, belum mencapai 50 persen sampai sepekan sebelum Lebaran. Jika ditilik lebih dalam, kata
              Dian,  yang  paling  terdampak  adalah  sektor  pekerja  informal.  Para  pekerja  rumah  tangga
              misalnya, ada yang menerima THR secara tunai tetapi besarannya kurang dari satu bulan gaji.
                                                           265
   261   262   263   264   265   266   267   268   269   270   271