Page 595 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 10 MEI 2021
P. 595

UU CIPTAKER BERI PERLINDUNGAN PEKERJA SEKTOR SAWIT

              Jakarta - Undang-Undang Cipta Kerja Nomor 11 tahun 2020 dinilai mampu meningkatkan daya
              saing tenaga kerja dan meningkatkan kualitas perlindungan terhadap pekerja termasuk di sektor
              kelapa sawit. Direktur Jenderal Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan dan Keselamatan dan
              Kesehatan  Kerja  Kementerian  Ketenagakerjaan  RI  Haiyani  Rumondang  di  Jakarta,  Jumat,
              mengatakan UU Cipta Kerja harus dipandang positif karena memperbaiki, menyempurnakan,
              dan melindungi pihak pengusaha maupun pekerja.

              UU Cipta Kerja menjawab masalah upah rendah, jam kerja panjang, perlindungan hak pekerja,
              buruh  kerja  harian  lepas,  perjanjian  kerja  waktu  tertentu,  mencegah  pekerja  anak,  dan
              melindungi pekerja perempuan dari tindakan kekerasan.

              "Seluruh persoalan tersebut kerap kali diangkat untuk menyerang sawit. Kampanye negatif sawit
              di sektor tenaga kerja sangat merugikan semua pihak. Tanpa penanganan yang baik, kampanye
              tadi  bisa  merusak  kontribusi  sawit  terhadap  negara.  Padahal,  peran  sawit  telah  terbukti
              menyerap 16 juta tenaga kerja," ujarnya dalam dialog webinar bertemakan "Bedah UU Cipta
              Kerja Bagi Sawit Borneo Berkelanjutan".

              Oleh  karena  itu,  tambahnya,  pemerintah  mengajak  pelaku  usaha  dan  buruh  sawit  untuk
              bersama-sama  melaksanakan  Undang-Undang  Cipta  Kerja  Nomor  11/2020  dan  peraturan
              pelaksananya. Senada dengan itu Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis Kementerian
              Koordinator  Bidang  Perekonomian  RI  Musdhalifah  Machmud  menyatakan  perubahan  yang
              tertuang dalam UU Cipta Kerja idealnya disikapi positif oleh pelaku usaha dan pekerja.

              Menurut  dia,  implementasi  regulasi  akan  meningkatkan  daya  saing  Indonesia,  kemudahan
              perizinan, dan membuka peluang ekspor.

              "UU Cipta Kerja akan meningkatkan keberterimaan produk sawit Indonesia di pasar global dan
              memperkuat citra positif kelapa sawit berkelanjutan, termasuk dengan menerapkan kewajiban
              ISPO yang telah mengadopsi 12 target SDG's dari 17 target," katanya.

              Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono mengatakan
              industri  sawit  selama  tiga  tahun  terakhir  menghadapi  gempuran  kampanye  negatif  yang
              berkaitan ketenagakerjaan.
              "Semakin  ke  sini  serangan  terhadap  kampanye  semakin  spesifik.  Sekarang,  bukan  lagi
              industrinya yang diserang melainkan perusahaan menjadi objek kampanye negatif. Kalau dulu,
              kampanye  negatif  memakai  isu  orang  hutan  dan  lingkungan  tetapi  sekarang  isunya  beralih
              pekerja perempuan dan anak," ujarnya.

              Joko  menyarankan  perlunya  memanfaatkan  UU Cipta kerja  untuk  memperbaiki  keadaan  dan
              meminimalkan resiko atas kampanye tersebut. Ada tiga prasyarat perlu dijalankan pelaku usaha
              untuk mengadopsi UU Cipta Kerja.
              Pertama,  pelaku  usaha  dan  pekerja  menyamakan  persepsi  terhadap  UU  Cipta  Kerja  dan
              peraturan pelaksana. Kedua, pembinaan hubungan industrial menjadi prioritas tidak ada pilihan
              lain bahwa pemberi kerja dan pekerja harus harmonis.

              Ketiga, pelaku usaha harus memperbaiki praktek ketenagakerjaan yang baik sesuai regulasi.
              Dalam konteks sustainability, maka aspek ketenagakerjaan menjadi penting sebagaimana diatur
              prinsip dan kriteria ISPO. Sekretaris Eksekutif Jejaring/Serikat Pekerja Buruh Sawit Indonesia
              Nursanna Marpaung mengatakan pihaknya telah membangun kerjasama yang baik dengan Gapki
              sejak 2017 melalui serangkaian kegiatan seperti pelatihan dan workshop bersama di beberapa
              wilayah dan riset tentang pekerja perempuan.


                                                           594
   590   591   592   593   594   595   596   597   598   599   600