Page 454 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 13 APRIL 2021
P. 454

"Pemberian THR Keagamaan merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh pengusaha
              kepada pekerja/buruh," ujar Ida dalam konferensi pers secara virtual tentang THR Tahun 2021
              di Jakarta, Senin (12/4).

              Menurut  Ida,  pemberian  THR  Keagamaan  bagi  pekerja/buruh  merupakan  upaya  memenuhi
              kebutuhan pekerja/buruh dan keluarganya dalam merayakan hari raya keagamaan.

              Secara khusus, dalam masa pemulihan ekonomi ini, THR tentu dapat menstimulus konsumsi
              masyarakat yang mendorong pertumbuhan ekonomi.

              Ida meminta agar waktu pembayaran THR Keagamaan dilakukan paling lama 7 hari sebelum
              hari raya keagamaan pekerja/buruh yang bersangkutan.

              Ada  pun  dalam  pelaksanannya,  lanjut  Ida,  pembayaran  THR  Keagamaan  diberikan  kepada
              pekerja/buruh yang telah mempunyai masa kerja 1 bulan secara terus menerus atau lebih.
              THR Keagamaan juga diberikan kepada pekerja/buruh yang mempunyai hubungan kerja dengan
              pengusaha  berdasarkan  perjanjian  kerja  waktu  tidak  tertentu  atau  perjanjian  kerja  waktu
              tertentu.

              Terkait jumlah besaran, Ida mengatakan, bagi pekerja/buruh yang mempunyai masa kerja 12
              bulan secara terus menerus atau lebih, THR diberikan dengan ketentuan sebesar 1 bulan upah.

              Sementara bagi pekerja/buruh yang telah mempunyai masa kerja 1 bulan secara terus menerus,
              tetapi kurang dari 12 bulan, THR diberikan secara proporsional sesuai dengan perhitungan masa
              kerja dibagi 12 bulan kemudian dikali 1 bulan upah.

              Ada  pun  bagi  pekerja/buruh  yang  bekerja  berdasarkan  perjanjian  kerja  harian  yang  telah
              mempunyai masa kerja 12 bulan atau lebih, upah 1 bulan dihitung berdasarkan rata-rata upah
              yang diterima selama 12 bulan terakhir sebelum hari raya keagamaan.

              "Sedangkan bagi pekerja/buruh yang telah mempunyai masa kerja kurang dari 12 bulan, upah
              1  bulan  dihitung  berdasarkan  rata-rata  upah  yang  diterima  tiap  bulan  selama  masa  kerja,"
              jelasnya.

              Lebih lanjut Ida menjelaskan, dalam SE juga dijelaskan bagi perusahaan yang masih terdampak
              pandemi Covid-19 dan berakibat tidak mampu memberikan THR Keagamaan tahun 2021 sesuai
              waktu yang ditentukan.

              Menurutnya,  dalam  peraturan  perundang-undangan,  gubernur  dan  Bupati/Wali  kota  diminta
              memberikan  solusi  dengan  mewajibkan  pengusaha  melakukan  dialog  dengan  pekerja/buruh
              untuk mencapai kesepakatan yang dilaksanakan secara kekeluargaan dan dengan itikad baik.

              "Kesepakatan tersebut dibuat secara tertulis dan memuat waktu pembayaran THR Keagamaan
              dengan  syarat  paling  lambat  dibayar  sampai  sebelum  Hari  Raya  Keagamaan  tahun  2021
              pekerja/buruh yang bersangkutan," jelas Ida.
              Dia mengatakan, kesepakatan mengenai waktu pembayaran THR keagamaan tersebut harus
              dipastikan tidak sampai menghilangkan kewajiban pengusaha untuk membayar THR keagamaan
              tahun  2021  kepada  pekerja/buruh,  dengan  besaran  sesuai  ketentuan  peraturan  perundang-
              undangan.
              "Perusahaan yang melakukan kesepakatan dengan pekerja atau buruh agar melaporkan hasil
              kesepakatan  kepada  dinas  yang  menyelenggarakan  urusan  pemerintahan  di  bidang
              Ketenagakerjaan setempat," sarannya.



                                                           453
   449   450   451   452   453   454   455   456   457   458   459