Page 481 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 13 APRIL 2021
P. 481

MENAKER IDA TERBITKAN SURAT EDARAN, THR WAJIB DIBAYAR PALING LAMBAT
              7 HARI SEBELUM HARI RAYA
              Pemerintah  mewajibkan  para  pengusaha,  untuk  membayarkan  tunjangan  hari  raya  (THR)
              keagamaan, paling lambat tujuh hari sebelum hari raya keagamaan tersebut.

              Penegasan  itu  disampaikan  Menteri  Ketenagakerjaan,  Ida  Fauziyah,  dalam  keterangan  pers
              secara  virtual,  Senin  (12/4).  Berkaitan  dengan  pemberian  THR  tersebut,  Menteri  Ida  telah
              menerbitkan Surat Edaran (SE) Nomor M/6/HK.04/IV/2021.

              SE yang ditujukan kepada para gubernur tersebut, mengatur Pelaksanaan Pemberian Tunjangan
              Hari Raya Keagamaan Tahun 2021 bagi pekerja atau buruh di perusahaan.

              “Pemberian THR Keagamaan, merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh pengusaha,
              kepada pekerja atau buruh. Pemberian THR Keagamaan bagi pekerja atau buruh, merupakan
              upaya  untuk  memenuhi  kebutuhan  mereka  dan  keluarganya,  dalam  merayakan  hari  raya
              keagamaan. Secara khusus, dalam masa pemulihan ekonomi ini, THR tentu dapat menstimulus
              konsumsi masyarakat, sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi,” kata Menaker Ida, seperti
              dirilis Kemnaker.go.id, Senin (12/4).

              Dalam  surat  edaran  tersebut,  Menaker  Ida  menyatakan  bahwa  SE  pelaksanaan  THR,
              berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2021 tentang Pengupahan dan Peraturan
              Menteri Ketenagakerjaan Nomor 6 Tahun 2016 tentang Tunjangan Hari Raya Keagamaan bagi
              Pekerja/Buruh di Perusahaan.

              Menaker Ida meminta perusahaan agar pembayaran THR Keagamaan, dilakukan paling lama 7
              hari sebelum hari raya keagamaan.

              “Saya tekankan bahwa THR Keagamaan wajib dibayarkan paling lama 7 hari sebelum hari raya
              keagamaan pekerja/buruh yang bersangkutan,” jelas Menaker Ida.

              Adapun  dalam  pelaksanannya,  pembayaran  THR  Keagamaan  diberikan  kepada  pekerja  atau
              buruh yang telah mempunyai masa kerja 1 bulan secara terus menerus atau lebih.

              THR Keagamaan juga diberikan kepada pekerja atau buruh yang mempunyai hubungan kerja
              dengan pengusaha berdasarkan perjanjian kerja waktu tidak tertentu atau perjanjian kerja waktu
              tertentu.

              Terkait jumlah besaran, bagi pekerja atau buruh yang mempunyai masa kerja 12 bulan secara
              terus menerus atau lebih, THR diberikan dengan ketentuan sebesar 1 bulan upah.

              Sementara bagi pekerja atau buruh yang telah mempunyai masa kerja 1 bulan secara terus
              menerus, tetapi kurang dari 12 bulan, THR diberikan secara proporsional sesuai perhitungan
              masa kerja, dibagi 12 bulan kemudian dikali 1 bulan upah.

              Adapun bagi pekerja atau buruh yang bekerja berdasarkan perjanjian kerja harian yang telah
              mempunyai masa kerja 12 bulan atau lebih, upah 1 bulan dihitung berdasarkan rata-rata upah
              yang diterima selama 12 bulan terakhir sebelum hari raya keagamaan.

              Adapun bagi pekerja, atau buruh yang telah mempunyai masa kerja kurang dari 12 bulan, upah
              1 bulan dihitung berdasarkan rata-rata upah, yang diterima tiap bulan selama masa kerja.
              Selanjutnya, dalam SE juga dijelaskan bagi perusahaan yang masih terdampak pandemi Covid-
              19 dan berakibat tidak mampu memberikan THR Keagamaan tahun 2021 sesuai waktu yang
              ditentukan dalam peraturan perundang-undangan, Menaker Ida meminta Gubernur dan Bupati
              atau  Wali  kota,  agar  memberikan  solusi  dengan  mewajibkan  pengusaha  melakukan  dialog


                                                           480
   476   477   478   479   480   481   482   483   484   485   486