Page 203 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 6 AGUSTUS 2021
P. 203

tiba  muncul  di  kantor  BP2MI  Nunukan.  Kepulangan  204  pekerja  migran  Indonesia  ini  tanpa
              rencana, apalagi pemberitahuan.


              RATUSAN PEKERJA MIGRAN MENYERAHKAN DIRI DI NUNUKAN

              NUNUKAN - Maria Magdalena duduk menunggu antrian di komplek rumah susun Nunukan,
              Kalimantan Utara . Kristabelle, anaknya yang masih berusia enam tahun, duduk diatas
              pangkuan wanita berusia 30-an tahun itu.
              Perhatian Tim dari Kantor Staf Presiden (KSP) yang mendampingi perlindungan pekerja migran,
              Kamis (5/8), langsung tertuju padanya.

              Kepada KSP, Maria mengaku sudah sebulan berada di Nunukan, Kalimantan Utara . Sebelumnya,
              selama sepuluh tahun dia bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Serawak, Malaysia. "Saya
              mau pulang," kata Maria, sambil menyebut Adonara, Nusa Tenggara Timur sebagai rumahnya.

              Tapi sesampai di Nunukan, agen perjalanan yang sudah menerima pembayaran 2.000 ringgit
              (sekitar Rp 7 juta) dari Maria, angkat tangan. "Saya sudah bayar ongkos tiket untuk barang dan
              anak saya juga," kata Maria.

              Masalahnya, sejak sebulan terakhir setiap perjalanan jarak jauh harus dilengkapi sertifikat vaksin.
              Sang  agen  tak  sanggup  memenuhi  syarat  itu.  Mereka  langsung  'melemparkan'  Maria  dan
              anaknya ke kantor Unit Pelaksana Teknis Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (UPT
              BP2MI) di Nunukan .

              Maria  dan  Kristabelle  tidak  sendiri.  Mereka  hanya  dua  dari  204  pekerja  migran  asal  Nusa
              Tenggara Timur yang Senin (3/8) lalu tiba-tiba muncul di kantor BP2MI Nunukan . "Mereka ini
              bukan  kami  tangkap,  tapi  menyerahkan  diri  ke  kantor  saya,"  kata  Hotma  Victor  Sihombing,
              Kepala UPT BP2MI Nunukan . Agen perjalanan yang sudah menerima pembayaran langsung
              melepas tanggungjawab.

              Victor  bergegas  melakukan  koordinasi  dengan  sejumlah  instansi  di  Nunukan  .  Mereka  harus
              segera ditolong. Dari kantor BP2MI, mereka diangkut ke penampungan sementara rumah susun
              di wilayah Nunukan Selatan. "Siapa yang akan mengurus mereka, ngasih makan, dan tempat
              tinggal sementara?" kata Victor pada KSP.

              Masalahnya  kepulangan  204  pekerja  migran  Indonesia  ini  tanpa  rencana,  apalagi
              pemberitahuan. "Mereka datang secara ilegal lewat jalur-jalur tikus," kata Victor. Beruntung dari
              Badan  Nasional  Penanggulangan  Bencana  (BNPB)  bersedia  menanggung  kebutuhan  makan
              mereka.

              Tugas BP2MI Nunukan belum selesai. Mereka masih harus mengupayakan para pekerja migran
              untuk segera mendapat vaksin. Masalahnya, vaksin masih cukup langka di Nunukan . Dari 180
              ribu penduduk Nunukan, baru sekitar sepuluh persen yang menerima vaksin pertama.

              Sementara, jika para pekerja migran tidak segera mendapat jatah vaksin, mereka akan terjebak
              di Nunukan lebih lama lagi. Menurut Victor, pihaknya sudah mengupayakan agar daerah tujuan
              para pengungsi itu bisa menerima mereka hanya dengan hasil test PCR. "Daerah tujuan masih
              belum mau (menerima). Tapi kita terus berupaya sambil mengupayakan vaksin buat mereka,"
              kata Victor.
              Kamis pagi tadi, para pekerja migran mendapatkan layanan test PCR. Menurut Abdul Munir,
              Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Nunukan, para pekerja migran akan
              menjalani dua kali test PCR untuk memastikan mereka tidak terpapar Covid-19. Hingga siang

                                                           202
   198   199   200   201   202   203   204   205   206   207   208