Page 231 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 5 JULI 2021
P. 231

SIAP-SIAP 'LEDAKAN' PEKERJA DI MAL RAMAI-RAMAI DIRUMAHKAN

              Jakarta, - Bisnis pusat perbelanjaan semakin tertekan karena dilarang beroperasi selama PPKM
              Darurat 3 - 20 Juli ini. Imbasnya tenaga kerja mal dan penyewa tenant sudah pasti dirumahkan.

              "Dengan adanya PPKM Darurat tersebut, maka tentunya para tenant dan pusat belanja harus
              merumahkan para karyawannya atau melakukan pengurangan tenaga kerja," kata Ketua Asosiasi
              Pusat  Perbelanjaan  Indonesia  (APPBI)  DKI  Jakarta,  Ellen  dalam  keterangan  resmi,  Jumat
              (2/7/2021).

              "Hal ini sebenarnya membuat kami sangat prihatin pada situasi, karena masyarakat harus dapat
              meningkatkan  dan  menjaga  kesehatan  pribadi  dan  keluarganya  sehingga  membutuhkan
              penghasilan untuk bertahan," tambah Ellen.


              "Sejak pandemi Covid - 19 merebak, pusat belanja sudah mengalami berbagai peraturan PSBB
              juga PPKM, serta pengetatan, sehingga daya tahan pusat belanja juga sudah sangat melemah.
              Kerugian sudah sangat besar karena biaya operasional pusat belanja cukup besar," jelasnya.

              Disamping itu pusat belanja juga masih harus memberikan diskon kepada tenant sesuai dengan
              kemampuannya, agar bisa bertahan dan membuka lapangan pekerjaan.

              "Tapi mirisnya di luar pusat belanja masih banyak bisnis masyarakat yang tidak menerapkan
              prokes dengan lengkap dan tepat," katanya.

              Dari aturan ini banyak kerugian yang akan dialami oleh pusat perbelanjaan. Selain berharap
              pusat belanja dapat beroperasi kembali setelah 20 Juli, pengusaha juga meminta adanya insentif
              dari pemerintah karena penerapan aturan PPKM Darurat ini.

              "Kepada  pemerintah  daerah  kami  mengharapkan  adanya  pengurangan  besaran  PBB,
              meniadakan pajak PB1 untuk restoran, reklame, dan pajak parkir," katanya.

              Selain itu pengusaha juga mengharapkan PPH final 10% sewa yang ditanggung pihak pusat
              belanja  ditiadakan,  pengurangan  tarif  PLN  dan  gas.  Juga  subsidi  bantuan  biaya  hidup  bagi
              karyawan yang bergerak di pusat belanja.

              Beban Kerugian Pusat Belanja Ellen menjelaskan masih ada tenant yang beroperasi pada periode
              PPKM darurat yakni di sektor kesehatan, supermarket/swalayan, kantor keuangan dalam mal,
              hingga F&B yang beroperasi secara take away. Diprediksi itu hanya 10% - 18% dari keseluruhan
              tenant yang dimiliki pusat belanja.

              Dari pengoperasian dipastikan mal akan menorehkan kerugian. Salah satunya dari beban listrik
              AC sentral, chiller kapasitas besar.

              "Pusat  belanja  dirancang  memakai  AC  sentral  dan  chiller  yang  berkapasitas  besar,  sehingga
              memang sangat tidak efisien dari segi biaya operasional," katanya.

              Lalu umumnya letak tenant tidak berada pada satu lantai yang sama, sehingga kebijakan pusat
              belanja  terpaksa  harus  beroperasi  sebagian  sesuai  peraturan  yang  sudah  diterbitkan,  guna
              memberikan kesempatan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan esensial.

              Selain  itu  dipastikan  pengunjung  pusat  belanja  akan  sangat  anjlok  pada  periode  ini.  Ellen
              memberi gambaran sebelum tanggal 24 Juni 2021 trafic rata-rata pusat belanja mencapai 44%
              dari kondisi normal sebelum pandemi.

              Setelah 24 Juni 2021 - 1 Juli tingkat kedatangan pusat belanja turun menjadi 40%, sehingga
              saat penerapan PPKM Darurat ini sekitar 26% - 28%.


                                                           230
   226   227   228   229   230   231   232   233   234   235   236