Page 101 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 25 MEI 2021
P. 101

"Ada  6  permasalahan  sekurang-kurangnya  terkait  dengan  tata  kelola  dalam  implementasi
              jaminan sosial pekerja migran Indonesia. Yang pertama belum tercover nya perlindungan bagi
              PMI mengalami kecelakaan kerja pada saat bekerja dan membutuhkan perawatan di negara
              penempatan,"  kata  Menaker  dalam  Raker  bersama  Komisi  IX  DPR  RI,  secara  virtual,  Senin
              (24/5).

              Kemudian, masalah kedua terkait manfaat JKK dan JKM belum sejalan dengan PP 82 tahun 2019
              tentang perubahan atas PP No 44 tahun 2015 tentang penyelenggaraan program JKK dan JKM.

              Padahal sudah jelas dalam PP 82 tahun 2019 itu, menghimpun terkait manfaat program JKK
              sebelum dan setelah bekerja, perlindungan atas resiko resiko kecelakaan yang terjadi dalam
              hubungan kerja termasuk kecelakaan yang terjadi dalam perjalanan dari rumah menuju tempat
              kerja atau sebaliknya.

              Atau  perawatan  dan  pengobatan  bagi  PMI  yang  terkena  penyakit  di  lingkungan  kerja,
              penggantian biaya pengangkutan santunan cacat, santunan kematian akibat kecelakaan kerja.
              Kemudian manfaat program JKK selama bekerja mulai dari penggantian biaya pengangkutan ke
              rumah sakit, santunan cacat, santunan kematian, santunan berkala bantuan bagi PMI yang di
              PHK.

              Tidak  hanya  itu,  perlunya  ada  penggantian  biaya  tiket  pesawat  bagi  PMI  yang  mengalami
              kecelakaan,  biaya  rehabilitasi,  beasiswa  pendidikan  atau  pelatihan  kerja  bagi  dua  anak PMI,
              kerugian atas tindakan pihak lain selama pulang dan resiko gagal ditempatkan bukan karena
              kesalahan PMI.

              "Ini manfaat program JKK," imbuhnya.

              Selanjutnya, Menaker juga menyebutkan manfaat JKM bagi PMI, diantaranya jaminan kematian
              manfaat  uang  tunai  yang  diberikan  kepada  ahli  waris  ketika  meninggal  dunia  bukan  akibat
              kecelakaan kerja, santunan kematian dan pemakaman meliputi selama bekerja dan sebelum dan
              setelah bekerja dan beasiswa 2 anak PMI.

              Menaker melanjutkan, permasalahan ketiga, adanya persyaratan lain dalam pengajuan klaim di
              luar persyaratan yang sudah diatur dalam Permenaker 18 tahun 2018 tentang Jamsostek PMI.

              Keempat, belum adanya bantuan bagi anak PMI yang belum memasuki jenjang pendidikan, dan
              orang tuanya apabila mengalami cacat total atau meninggal dunia. Kelima, terbatasnya akses
              bagi  PMI  yang  akan  melakukan  perpanjangan  kepesertaan  dari  negara  penempatan  dalam
              pembayaran iuran.

              "Keenam,  pengajuan  klaim  masih  bersifat  manual  sehingga  kesulitan  dalam  mengetahui
              kemajuan klaimnya," ujarnya.

              Demikian, untuk menyelesaikan 6 permasalahan tata kelola tersebut, Kemnaker akan melakukan
              dua hal. Pertama, mendorong Pelaksanaan Pasal 29 ayat (4) Undang undang Nomor 18 tahun
              2017 mengenai Kerjasama antar BPJS Ketenagakerjaan dengan Lembaga Pemerintah dan/atau
              Swasta  untuk  mengcover  risiko  yang  belum/tidak  bisa  dicakup  oleh  BPJS  Ketenagakerjaan;
              "Kedua,  mendorong  BPJS  Ketenagakerjaan  untuk  menyusun  action  plan  dalam
              mengimplementasikan  peraturan  menteri  ketenagakerjaan  tentang  jaminan  sosial  bagi  PMI,
              serta Pelaksanaan Pelaporan sesuai Pasal 38 Permenaker No. 18 Tahun 2018, sebagai dasar
              Evaluasi pelaksanaan Jaminan sosial bagi PMI," pungkasnya.

              Reporter: Tira Santia Sumber: Liputan6.com [azz].




                                                           100
   96   97   98   99   100   101   102   103   104   105   106