Page 503 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 19 April 2021
P. 503

DOSEN PEMBIMBING :

              Dr. Heri Setiawan,S.T.,M.T.,IPM.

              Akuntans, Universitas Katolik Musi Charitas (UKMC) Palembang.

              Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah meminta pengusaha untuk membayar penuh
              tunjangan hari raya (THR) ke para pekerja dan buruh. Bukan hanya itu, THR juga harus diberikan
              secara tepat waktu. Menurutnya selama ini pemerintah sudah memberi dukungan ke pengusaha
              untuk mengatasi dampak Covid-19 agar perekonomian masyarakat bergerak. Kemenaker juga
              sudah berdiskusi baik dengan dewan pengupahan nasional dan buruh soal ini. Kementerian pula
              akan membuat satgas penerapan THR 2021.

              Pemerintah  wilayah  diharapkan  ikut  serta  untuk  membuat  suasana  kondusif.  Menteri
              Ketenagakerjaan (Menaker) “Kami mohon kerjasama daerah pastikan pengusaha bayar THR ke
              buruh sesuai perundangan dan wajibkan pengusaha tidak mampu bayar THR melakukan dialog
              dengan buruh, untuk sampai pada kesepakatan yang dibuat secara tertulis, dengan syarat paling
              lambat  dibayar  sehari  sebelum  THR,”  Kesepakatan  dibuat  secara  tertulis  mengenai  waktu
              pembayaran  THR  keagamaan  dengan  syarat  paling  lambat  dibayar  saat  sebelum  hari  raya
              keagamaan  tahun  2021  yang  bersumber  pada  laporan  keuangan  internal  perusahaan  yang
              transparan.
              “Laporan keuangan 2 tahun terakhir. Kalau ada perusahaan yang tidak memiliki kemampuan
              membayar sesuai dengan ketentuan tersebut, maka dia harus melaporkan pembicaraan bipartit
              nya  kepada  dinas  ketenagakerjaan  sebelum  H-7,  karena  kelonggaran  yang  diberikan  hanya
              sampai H–1 hari raya Idul Fitri,” Menteri Ketenagakerjaan (Menaker)

              “Berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan terkait dengan denda, pengusaha yang
              terlambat membayar THR keagamaan pada pekerja/buruh dikenai denda sebesar 5% dari total
              THR yang harus dibayar sejak berakhirnya batas waktu kewajiban pengusaha untuk membayar,”
              Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Sanksi administratif tersebut sesuai Peraturan Pemerintah
              Nomor 36 Tahun 2021 tentang Pengupahan yakni Pasal 9 ayat 1 dan ayat 2 dan Permenaker 6
              tahun  2016. Pengenaan  sanksi  administratif  juga  tidak  menghilangkan kewajiban  pengusaha
              atas  denda  keterlambatan  membayar  THR  keagamaan  sebagaimana  diatur  dalam  peraturan
              perundang–undangan.

              “Pengusaha yang tidak membayar THR keagamaan dikenai sanksi administratif berupa, teguran
              tertulis,  pembatasan  kegiatan  usaha,  penghentian  sementara  sebagian  atau  seluruh  alat
              produksi dan pembekuan kegiatan usaha,” Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Dari hal tersebut
              banyak para pekerja dan buruh akan merasakan dampak yang baik apabila peraturan ini segera
              di terapkan di setiap perusahaan kecil maupun besar.dalam hal ini Kementerian Ketenagakerjaan
              juga  telah  memberikan  kelonggaran  bagi  perusahaan  yang  tidak  mampu  membayar  THR.
              Diantaranya dengan cara boleh dicicil.

              “Menurut  chandra  salah  satu  pegawai/karyawan  disalah  satu  perusahaan  swasta  palembang
              beliau  memberikan  pendapat  bahwa  adanya  pemberian  THR  secara  penuh  untuk  parah
              pekerja/buruh dapat menunjang ekonomi bagi pekerja yang dimana THR itu digunakan untuk
              kebutuhan hari raya idul fitri dan juga bermanfaat untuk kebutuhan pokok bagi pekerja di masa
              pandemi covid 19”

              Disisi lain adanya peraturan THR 100% ini pun didukung penuh oleh salah satu Perusahaan
              Swasta  di  Kota  Palembang,  menurut  pemilik  perusahaan  swasta  di  Kota  Palembang  yang
              bernama  Andi  menyetujui  dengan  adanya  peraturan  ini  karena  selain  guna  membantu
              menyejahterahkan para pekerja/buruh membuat mereka juga semakin giat untuk bekerja demi
              mempertahankan perekonomian keluarganya.

                                                           502
   498   499   500   501   502   503   504   505   506   507   508