Page 443 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 18 AGUSTUS 2020
P. 443

Humas  ARB  , Lusi, menjelaskan aksi ini merupakan aksi lanjutan setelah aksi 16 Juli lalu. Mereka
              merasa  perlu  kembali  ke  jalan    lantaran    DPR  yang  tadinya  bersepakat  tidak  melanjutkan
              pembahasan  omnibus law  di masa reses justru ingkar.

              "Seperti yang kita tahu pada masa reses  DPR  masih melakukan pembahasan, itu menyalahi
              kesepakatan yang sudah dibuat dan membuat kami perlu turun ke jalan jegal omnibus law," kata
              Lusi, Jumat (14/8).

              Lanjutnya aksi kali ini berfokus untuk memberi tekanan  politik  pada pemerintah. Ini sebagai
              jawaban dari survei pemerintah bahwa RUU Cipta Kerja disetujui dan diterima masyarakat.

              "Statement itu terlalu menggeneralisir, masih ada di titik api yang melakukan  perlawanan,"
              ujarnya.

              Humas  ARB  lain, Revo, menjelaskan bahwa  ARB  secara jaringan nasional telah bersepakat
              untuk tetap menggagalkan omnibus law oleh DPR. Menurutnya pernyataan bahwa RUU Cipta
              Kerja menguntungkan Indonesia adalah kebohongan besar.

              "Karena DPR tidak punya prioritas karena masyarakat sedang kesulitan, tapi DPR tetap getol
              membahas RUU Cipta Kerja karena ketika dibilang RUU Cipta Kerja menguntungkan Indonesia
              adalah  kebohongan.  RUU  Cipta  Kerja  hanya  menguntungkan  elite  besar  pengusaha  dan
              menindas  rakyat kecil buruh tani maupun mahasiswa," katanya.

              Dalam aksi ini  setidaknya  ada 7 tuntutan yang disampaikan:  - Gagalkan omnibus law RUU
              Cipta Kerja  - Berikan jaminan kesehatan,  ketersediaan  pangan, pekerjaan, dan upah yang
              layak untuk rakyat terutama di saat pandemi  - Gratiskan UKT/SPP dua semester selama pandemi
              - Cabut UU Minerba, batalkan RUU Pertanahan, dan tinjau ulang RUU KUHP  - Segera sahkan
              RUU PKS  - Hentikan dwifungsi TNI Polri yang saat ini banyak menempati jabatan publik dan
              akan dilegalkan dalam omnibus law RUU Cipta Kerja   - Menolak otonomi khusus Papua dan
              berikan hak penentuan nasib sendiri dengan menarik seluruh komponen militer, mengusut tuntas
              pelanggar HAM, dan buka ruang demokrasi seluas-luasnya.





































                                                           442
   438   439   440   441   442   443   444   445   446   447   448