Page 55 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 5 FEBRUARI 2021
P. 55

positive - Rodli (Kepala Seksi Perlindungan dan Pemberdayaan BP2MI Semarang) Putusan itu
              memudahkan  kami  bisa  memberikan  edukasi  ke  manning  agent  lain,  agar  tidak  melakukan
              perekrutan  jika  tidak  punya  izin  (pengiriman  pekerja  migran)  karena  bakal  dilakukan  proses
              pidana dan dimasukkan ke penjara



              Ringkasan

              Tiga orang pekerja migran masih memendam asa bekerja lagi di kapal ikan asing. Mereka bagian
              dari  jutaan  tenaga  kerja  yang  bertaruh  hidup  demi  mengumpulkan  rupiah  di  luar  negeri.
              Berdasarkan data Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI), jumlah pekerja migran
              Indonesia yang tersebar di berbagai negara mencapai 9 juta orang.

              Ketiganya yakni Thalib, Martin, dan Muhammad Reza. Sebelumnya mereka pernah bekerja di
              kapal milik perusahaan Cina, Dalian Ocean Fishing CO, LTD. Kini mereka tinggal bersama dalam
              rumah  penampungan  yang  disediakan  Serikat  Pekerja  Perikanan  Indonesia  (SPPI).  Tempat
              persinggahan  itu  terletak  di  Kabupaten  Tangerang.  Thalib  masih  menanti  pembayaran  upah
              sebesar Rp 11 juta. Padahal dirinya telah bekerja di Kapal Long Xing 605 sejak November 2018.
              "Kalau saya teken kontrak itu digaji US$ 300 per bulan," katanya.



              TAJAK KEBAT KESELAMATAN PEKERJA MIGRAN DI INDUSTRI PERIKANAN
              Jakarta - Tiga orang pekerja migran masih memendam asa bekerja lagi di kapal ikan asing.
              Mereka bagian dari jutaan tenaga kerja yang bertaruh hidup demi mengumpulkan rupiah di luar
              negeri. Berdasarkan data Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI), jumlah pekerja
              migran Indonesia yang tersebar di berbagai negara mencapai 9 juta orang.
              Ketiganya yakni Thalib, Martin, dan Muhammad Reza. Sebelumnya mereka pernah bekerja di
              kapal milik perusahaan Cina, Dalian Ocean Fishing CO, LTD.

              Thalib adalah pemuda berusia 21 tahun asal Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Martin berasal dari
              Bandung.  Sedangkan  Reza  merupakan  anak  lelaki  yang  lahir  dan  tumbuh  di  ujung  pulau
              Sumatera, tepatnya di Aceh.

              Kini  mereka  tinggal  bersama  dalam  rumah  penampungan  yang  disediakan  Serikat  Pekerja
              Perikanan Indonesia (SPPI). Tempat persinggahan itu terletak di Kabupaten Tangerang.

              Ketika ditemui Tempo, Thalib bercerita menjadi bagian dari 157 anak buah kapal (ABK) yang
              dipulangkan melalui pelabuhan Bitung pada November 2020 silam. Pemuda berambut ikal ini
              sempat ingin kembali ke kampung halamannya di Sulawesi Tenggara. Namun keinginan itu urung
              dilakukannya. "Berharap perusahaan masih membayarkan gaji yang belum dibayarkan," ujarnya,
              Senin, 4 Januari 2021.

              Keinginan  kuat  memperjuangkan  hak  membuatnya  berlabuh  ke  tempat  singgah  milik  SPPI.
              Selama  dua  tahun  bekerja  di  kapal  ikan  dirinya  belum  menerima  upah  yang  seharusnya
              didapatkan.

              Thalib masih menanti pembayaran upah sebesar Rp 11 juta. Padahal dirinya telah bekerja di
              Kapal Long Xing 605 sejak November 2018. "Kalau saya teken kontrak itu digaji US$ 300 per
              bulan," katanya.

              Selain  gaji,  Thalib  juga  merasa  tertipu  untuk  ketika  akan  menjadi  ABK  kapal  ikan  melalui
              perusahaan penyalur yakni PT Alfira Perdana Jaya. Waktu, dirinya membayarkan dana sebesar


                                                           54
   50   51   52   53   54   55   56   57   58   59   60