Page 42 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 22 JANUARI 2021
P. 42

PENGUSAHA : KOMPENSASI PERUMAHAN DAN PENGOBATAN MASUK DANA MASA
              DEPAN
              Asosiasi Pengusaha Indonesia berpendapat bahwa direvisinya jenis-jenis hak yang dapat diganti
              sebagai  akibat  dari  pemutusan  hubungan  kerja  sebagaimana  tercantum  dalam  Rancangan
              Peraturan Pemerintah (RUU) Undang-Undang Nomor 11/2020 tentang Cipta Kerja sudah tepat.

              Menurut  Wakil  Ketua  Asosiasi  Pengusaha  Indonesia  (Apindo)  Bidang  Ketenagakerjaan  Bob
              Azzam, uang penggantian hak untuk perumahan dan pengobatan serta perawatan tidak sesuai
              dengan konsep pesangon.

              "Kompensasi  perumahan,  menurut  saya,  masuk  ke  dana  masa  depan  dan  tidak  seharusnya
              masuk  dalam  pesangon  karena  fungsi  dari  pesangon  adalah  menjamin  pekerja  pada  masa
              tunggu," katanya saat dihubungi, Kamis (21/1/2021).

              Dia menilai konsep pesangon yang selama ini diadopsi di Indonesia membingungkan karena
              cakupan manfaat yang diterima korban pemutusan hubungan kerja (PHK) bisa mencapai nominal
              yang setara dengan upah 32 bulan. Sementara itu, di negara lain, besaran pesangon disesuaikan
              dengan rata-rata masa tunggu sampai pekerja memperoleh pekerjaan.

              "Konsep pesangon selama ini membingungkan. Apakah untuk jaminan masa tunggu bagi korban
              PHK sebelum mendapatkan pekerjaan baru atau untuk dana masa depan." Bob mengatakan
              bahwa sudah saatnya bagi pasar tenaga kerja Indonesia untuk memisahkan antara pesangon
              yang menjamin pekerja pada masa tunggu dan dana masa depan yang berkaitan dengan masa
              pensiun.

              "Makanya dikaitkan dengan pelatihan kerja. Jadi, inilah yang masuk ke unemployment benefit.
              Berapa lama waktu tunggu inilah yang harus dihitung," lanjutnya.

              Kewajiban pesangon sendiri tidak bisa serta-merta ditetapkan dengan mengacu pada masa kerja.
              Bob mengatakan bahwa perusahaan tidak bisa dibebankan langsung karena pada banyak kasus,
              aset perusahaan bisa lebih rendah dari kewajiban yang dikenakan saat PHK pekerja terjadi.

              "Kewajiban pesangon tidak bisa langsung ditetapkan demikian karena menyangkut dana yang
              besar. Jadi, ke depan pesangon kalau bisa dikelola pihak ketiga," kata Bob.

              Dalam Pasal 156 Undang-Undang Nomor 13/2003 tentang Ketenagakerjaan, korban PHK berhak
              atas uang pesangon dan atau uang penghargaan masa kerja dan uang penggantian hak.
              Besaran pesangon yang diterima setidaknya mencapai 9 bulan upah untuk masa kerja 8 tahun
              atau lebih dan 10 bulan upah sebagai uang penghargaan untuk pekerja dengan waktu kerja
              lebih dari 24 tahun. Selain itu, korban PHK juga menerima uang penggantian hak yang diatur
              dalam ayat 4 Pasal 156.



















                                                           41
   37   38   39   40   41   42   43   44   45   46   47