Page 88 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 10 AGUSTUS 2021
P. 88
Sebelumnya, Timboel memperkirakan 50 persen pekerja sektor manufaktur di Tanah Air bisa
terdampak jika pembatasan masih berlaku seperti saat ini, baik dirumahkan ataupun terkena
pemutusan hubungan kerja (PHK).
Berdasarkan data Kementerian Perindustrian hingga akhir Desember 2020, jumlah total pekerja
di sektor manufaktur sebanyak 17,5 juta orang. Sampai dengan Juni 2021, OPSI menyebut
sebanyak 1,45 juta pekerja di sektor manufaktur diberhentikan ataupun dirumahkan.
Di sektor ritel, Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) mengestimasikan sebanyak 10 - 15
persen dari total 2 juta tenaga kerja sektor ritel akan dirumahkan dalam beberapa bulan ke
depan akibat Berkurangnya jam operasional tempat-tempat usaha setelah pemerintah
memperketat penerapan PPKM.
"Kami berharap pemerintah bisa memberikan pelonggaran secara bertahap. Untuk sektor
nonesensial dibuka minimal 50 persen, sedangkan yang esensial bisa 75-100 persen sehingga
pekerja yang dirumahkan bisa kembali bekerja," ujar Timboel, Senin (9/9/2021).
Pelonggaran di sektor manufaktur dan ritel, sambungnya, harus dilakukan dengan sejumlah
catatan.
Pertama, penerapan protokol kesehatan secara ketat dan terawasi dengan pengawasan satgas
Covid-19 di perusahan.
Kedua, pekerja di kedua sektor tersebut harus mendapatkan vaksinasi gratis dari program
pemerintah yang dilakukan di tempat kerja.
Pelonggaran yang diterapkan dengan sejumlah catatan tersebut, kata Timboel, dapat
memberikan efek domino ke sektor informal yang notabene juga mampu menyerap tenaga kerja.
Bergeliatnya sektor manufaktur dan ritel dinilai akan memicu penyerapan tenaga kerja oleh
pelaku UMKM di sekitar area industri.
"Kalau PPKM masih ketat, saya khawatir kondisi ketenagakerjaan di kedua sektor tersebut bisa
terpuruk lagi," kata Timboel.
87

