Page 1255 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 2 NOVEMBER 2020
P. 1255

TURUN JALAN TUNTUT KENAIKAN UPAH

              SEMENTARA  Konfederasi  Serikat  Pekerja  Indonesia  (KSPI)  menyesalkan  sikap  SE  Menteri
              Ketenagakerjaan, Nomor M/ll/HK.4/x/2020 tertanggal 26 Oktober 2020. Isi SE itu, meminta para
              gubernur  menyesuaikan  upah  minimum  2021  dengan  nilai  upah  minimum  tahun  ini.
              Melaksanakan  penetapan  upah  minimum  setelah  tahun  2021  sesuai  ketentuan  peraturan
              perundangan-undangan, menetapkan, dan mengumumkan Upah Minimum Provinsi Tahun 2021
              pada 31 Oktober 2020.

              Presiden KSPI Said Iqbal mengatakan, aksi perlawanan buruh akan semakin mengeras. Menolak
              upah minimum 2021, dan Omnibus Law UU Ciptaker. "Menaker tidak memiliki sensitivitas nasib
              buruh, hanya memandang kepentingan pengusaha semata," kata Said.

              Said tidak menampik pengusaha tengah menghadapi situasi sulit. Namun, kondisi buruh jauh
              lebih  susah.  Seharusnya,  pemerintah  bersikap  lebih  adil  dengan  tetap  ada  kenaikan  upah
              minimum 2021. Tetap memberi kemudahan bagi perusahaan yang tidak mampu. Menangguhkan
              dengan  tidak  menaikan upah  minimum,  setelah berunding  dengan  serikat  pekerja di  tingkat
              perusahaan  dan  melaporkan  ke  Kemenaker.  "Jangan  dipukul  rata  semua  perusahaan  tidak
              mampu.  Faktanya,  tahun  1998  tetap  ada  kenaikan  upah  minimum  untuk  menjaga  daya  beli
              masyarakat," tegasnya.

              Ia mempertanyakan, "Apakah presiden sudah mengetahui keputusan Menaker ini? Atau hanya
              keputusan sepihak Menaker?" Oleh karena itu, KSPI dan seluruh serikat buruh akan melakukan
              aksi nasional besar-besaran di 24 provinsi pada 2 Nopember, 9 dan 10 November. Melibatkan
              ratusan  ribu  buruh  di  Mahkamah  Konstitusi,  Istana,  DPR  RI,  dan  kantor  Gubernur  seluruh
              Indonesia. Mengusung isu batalkan Omnibus Law UU Ciptaker, dan kenaikan upah minimum
              2021 untuk menjaga daya beli masyarakat.

              Sebelumnya, KSPI menyebut empat alasan mengapa upah minimum 2021 harus naik. Pertama,
              jika upah minimum tidak naik, membuat situasi semakin panas. Apalagi saat ini para buruh masih
              memperjuangkan penolakan UU Ciptaker. Di mana, seiring penolakan Omnibus Law, buruh juga
              akan menyuarakan upah minimum 2021 tetap naik.

              Alasan kedua, alasan upah tidak naik karena saat ini pertumbuhan ekonomi minus tidak tepat.
              Bandingkan dengan tahun 1998, 1999, dan 2000 lalu. "Sebagai contoh, di DKI Jakarta, kenaikan
              upali minimum tahun 1998 ke 1999 naik 16 persen, padahal pertumbuhan ekonomi tahun 1998
              minus 17,49 persen. Begitu juga upah minimum tahun 1999 ke 2000, upah minimum tetap naik
              23,8 persen, dengan pertumbuhan ekonomi tahun 1999 minus 0,29 persen," bebernya.

              Lalu alasan ketiga, bila upah minimum tidak naik daya beli masyarakat semakin anjlok. Daya beli
              turun berakibat tingkat konsumsi jatuh. Ujung-ujungnya berdampak negatif buat perekonomian.
              "Alasan keempat, tidak semua perusahaan kesulitan akibat Pandemi COVID-19. Oleh karena itu,
              kebijakan kenaikan upah harus dilakukan secara proporsional," katanya, (nas)


















                                                          1254
   1250   1251   1252   1253   1254   1255   1256   1257   1258   1259   1260