Page 1453 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 2 NOVEMBER 2020
P. 1453

Ringkasan

              Konfederasi  Serikat  Pekerja  Indonesia  (KSPI)  dan  seluruh  serikat  buruh  di  Indonesia  akan
              melakukan aksi nasional besar-besaran di 24 propinsi pada 2 November dan 9-10 November
              2020. Hal ini dilakukan merespon kebijakan pemerintah yang tidak menaikkan Upah Minimum
              Provinsi ( UMP ) tahun 2021.

              Demonstrasi tersebut nantinya diikuti puluhan hingga ratusan ribu buruh. Mereka akan berdemo
              di  depan  kantor  Mahkamah  Konstitusi,  Istana,  DPR  RI,  dan  di  kantor  Gubernur  di  seluruh
              Indonesia bersamaan dengan isu pembatalan Omnibus Law UU Cipta Kerja.



              BURUH NGOTOT MINTA UMP 2021 TETAP NAIK, INI SEBABNYA

              Konfederasi  Serikat  Pekerja  Indonesia  (KSPI)  dan  seluruh  serikat  buruh  di  Indonesia  akan
              melakukan aksi nasional besar-besaran di 24 propinsi pada 2 November dan 9-10 November
              2020. Hal ini dilakukan merespon kebijakan pemerintah yang tidak menaikkan Upah Minimum
              Provinsi ( UMP ) tahun 2021.

              Demonstrasi tersebut nantinya diikuti puluhan hingga ratusan ribu buruh. Mereka akan berdemo
              di  depan  kantor  Mahkamah  Konstitusi,  Istana,  DPR  RI,  dan  di  kantor  Gubernur  di  seluruh
              Indonesia bersamaan dengan isu pembatalan Omnibus Law UU Cipta Kerja.

              Presiden KSPI Said Iqbal menyebutkan 4 alasan mengapa upah minimum 2021 harus naik.

              "Pertama, jika upah minimum tidak naik, hal ini akan membuat situasi semakin panas. Apalagi
              saat ini para buruh masih memperjuangkan penolakan terhadap UU Cipta Kerja, di mana seiring
              dengan penolakan omnibus law, buruh juga akan menyuarakan agar upah minimum 2021 tetap
              naik.  Sehingga  aksi-aksi  akan  semakin  besar,"  ujar  Said  dalam  pernyataannya  kepada
              Liputan6.com, Selasa (27/10/2020).

              Kedua, alasan upah tidak naik karena saat ini pertumbuhan ekonomi minus tidak tepat. Said
              Iqbal meminta agar pemerintah membandingkan dengan apa yang terjadi pada tahun 1998,
              1999, dan 2000.

              Said mencontohkan, di DKI Jakarta, kenaikan upah minimum dari tahun 1998 ke 1999 tetap naik
              sekitar 16 persen, padahal pertumbuhan ekonomi tahun 1998 minus 17,49 persen.

              "Begitu juga dengan upah minimum tahun 1999 ke 2000, upah minimum tetap naik sekitar 23,8
              persen, padahal pertumbuhan ekonomi tahun 1999 minus 0,29 persen," kata Said.

              Ketiga, menurut serikat pekerja, bila upah minimum tidak naik maka daya beli masyarakat akan
              semakin  turun.  Daya  beli  turun  akan  berakibat  jatuhnya  tingkat  konsumsi  yang  ujungnya
              berdampak negatif buat perekonomian.

              Keempat,  tidak  semua  perusahaan  kesulitan  akibat  pandemi  Covid-19.  Oleh  karena  itu,  dia
              meminta kebijakan kenaikan upah dilakukan secara proporsional.


              "Jangan dipukul rata semua perusahaan tidak mampu. Faktanya di tahun 1998 pun tetap ada
              kenaikan upah minimum untuk menjaga daya beli masyarakat," tegasnya.

              Sementara itu, dihubungi terpisah, Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA)
              Kementerian Perindustrian Gati Wibawaningsih menanggapi keputusan tidak naiknya UMP 2021.
              Menurutnya, itu hal yang baik bagi industri kecil, menengah dan aneka.




                                                          1452
   1448   1449   1450   1451   1452   1453   1454   1455   1456   1457   1458