Page 45 - E-Modul Kebijakan Cultuurstelsel Belanda di Karesidenan Madiun
P. 45
45
Blora Jawa Tengah. Gerakan Samin merupakan suatu
reaksi yang ditunjukkan oleh petani terhadap perubahan
sosial abad ke-19. Gerakan ini disebut sebagai aliran
(gerakan politis/religius) yang memiliki kultus, simbol,
dan doktrin sendiri. Adapun Gerakan Samin ini tidak
melakukan kekerasan untuk menentang kekuasaan
Belanda dan tidak mengklaim pemimpin mereka sebagai
Ratu Adil. Menurut Harry J. Benda dan Lance Castles,
munculnya Gerakan Samin disebabkan oleh beban
ekonomi, pajak kerja rodi, dan pajak tanah dalam
Kebijakan Etis. Meskipun berasal dari Jawa Tengah,
Gerakan Samin akhirnya menyebar hingga ke wilayah
Madiun. Gerakan Samin di wilayah Madiun berpusat di
Desa Ngegong di bawah pimpinan Kartotaruno. Namun
Gerakan Samin ini menghilang pada awal kelahiran
negara Republik Indonesia (Hadiatmodjo, 1980:222).
Berbagai permasalahan sosial yang menyebabkan
terjadinya pemberontakan dan kerusuhan tersebut,
muncul sebagai upaya untuk mencari keadilan. Salah satu
ketidakadilan tersebut terjadi pada para petani yang
memiliki hak tanah tetapi tidak merasakan keadilan akibat
meluasnya perkebunan Belanda dan tingginya pajak.
Selain itu, munculnya gerakan Samin dan
pemberontakan Pulung juga berkaitan dengan kenaikan
pajak. Fenomena kenaikan pajak tersebut berdampak

