Page 43 - E-Modul Kebijakan Cultuurstelsel Belanda di Karesidenan Madiun
P. 43
43
pembakaran perkebunan tebu. Berdasarkan informasi
yang diberikan M. van Geuns pada tahun 1911, total
pembakaran tebu di wilayah Madiun terjadi sebanyak
188 kali dengan luas area mencapai 365 bau.
Pembakaran tersebut terjadi di daerah Pagotan,
Kanigoro, Geneng, dan Rejosarie. Terdapat pula
kejahatan pembuat dan pengedar uang palsu pada akhir
abad ke 19. Namun jumlah kejahatan tersebut relatif
sedikit dan tidak terlalu menimbulkan perubahan sosial
(Margana, 2017:154).
Adapun perubahan sosial lain yang terjadi di
Karesidenan Madiun adalah munculnya sebuah
perlawanan. Perlawanan tersebut dapat dikelompokkan
menjadi tiga, yaitu reaksi jangka panjang, gerakan ratu
adil, dan sekte-sekte yang berbeda pandangan. Adapun
reaksi jangka panjang ini dilakukan dengan migrasi
penduduk. Sebagian besar aksi migrasi penduduk
tersebut dilakukan oleh para numpang atau orang yang
tidak memiliki lahan. Berdasarkan laporan residen E.M.
Francis, disebutkan bahwa terjadi perpindahan
penduduk dari daerah penghasil nila ke daerah penghasil
kopi pada tahun 1840. Hal ini dikarenakan bekerja di
perkebunan nila dinilai lebih berat daripada bekerja di
perkebunan kopi. Tak hanya itu, reaksi jangka panjang
lainnya yang terjadi di Karesidenan Madiun adalah aksi

