Page 46 - E-Modul Kebijakan Cultuurstelsel Belanda di Karesidenan Madiun
P. 46

46






                        pula pada stuktur di desa, di mana Raja memiliki seluruh


                        tanah  dan  seluruh  pajak  dikenakan  pada  setiap  tanah

                        bukan  pada  penduduk  atau  petani.  Kemudian  desa


                        sebagai institusi, harus membayar pajak yang dibayarkan


                        dalam bentuk kerja, uang, barang produksi ataupun tanah.


                        Sehingga dalam pendekatan komunal peraturan Belanda,

                        pajak  atau  beban  yang  lebih  tinggi  menyebabkan  tanah


                        semakin  terbagi.    Oleh  karena  itu,  pajak,  pemecahan


                        lahan, pola kepemilikan, dan kerusuhan di desa memiliki


                        hubungan sebab akibat (Ham, 2018:240).

                          Tidak  hanya  itu,  penerapan  Cultuurstelsel  juga


                        memberikan  dampak  secara  global,  di  antaranya


                        terjadinya  dualisme  ekonomi,  meningkatnya  jumlah


                        penduduk,  bencana  kelaparan  di  berbagai  daerah,

                        berkurangnya  lahan  pertanian,  tumbuhnya  perusahaan


                        perkebunan  dan  perdagangan,  dan  munculnya  berbagai


                        pemberontakan para petani (Yuliati, 2013:99-102).

                          Aspek  sosial  lainnya  dilandasi  oleh  teori  sosial  Karl


                        Marx.  Marx  dalam  teori  sosialnya  berpendapat  bahwa


                        kondisi  ekonomi  akan  merubah  mekanisme  perubahan


                        sosial  dari  feodalisme  ke  kapitalisme,  dan  masyarakat

                        akan  mulai  bergantung  pada  sistem  ekonomi  yang


                        berkembang,  yang  di  dalamnya  juga  mengandung


                        konflik-konflik  sosial  yang  dapat  menimbulkan  krisis


                        maupun masalah (Peter, 1992:212).
   41   42   43   44   45   46   47   48   49   50   51