Page 42 - E-Modul Kebijakan Cultuurstelsel Belanda di Karesidenan Madiun
P. 42
42
B. Dampak Sosial Pelaksanaan Cultuurstelsel di
Karesidenan Madiun
Perubahan sosial yang terjadi di wilayah Karesidenan
Madiun, tidak lain sebagai bentuk reaksi rakyat untuk
menentang kekuasaan kolonial. Berbagai otoritas yang
dikeluarkan Belanda untuk mengeksploitasi sistem pajak
menyebabkan munculnya kriminalitas dan perlawanan
dari rakyat pribumi. Berdasarkan laporan Residen
Francis, pada tahun 1832 terjadi 101 kasus kriminalitas,
dari jumlah tersebut 50 orang berhasil ditahan oleh
kepolisian. Selanjutnya, pada tahun 1840 terjadi 51 kasus
kriminalitas, dari jumlah tersebut 13 orang berhasil
ditahan oleh kepolisian. Menurut Residen Francis, jenis
kriminalitas yang banyak terjadi di wilayah Madiun
adalah pencurian dan pembegalan. Pembegalan banyak
dilakukan oleh sekelompok orang yang melakukan
kejahatan dengan membawa kampak, sehingga disebut
kampakpartijen atau ketjoepartijen (gerombolan kampak
atau gerombolan kecu). Tak hanya itu, kejahatan lain
yang sering terjadi di wilayah Madiun adalah pencurian,
pembakaran perkebunan tebu, dan pengedaran uang
palsu. Kasus pencurian merupakan kejahatan yang sering
terjadi di wilayah Madiun dengan 160 kasus pencurian
ternak tercatat pada tahun 1886. Selain kasus pencurian,
kejahatan yang sering terjadi di wilayah Madiun adalah

