Page 276 - Naskah Gubernur Pertama di Indonesia
P. 276

262        Gubernur Pertama di Indonesia



            segala  perbedaan  dalam  bidang  politik,  ekonomi,  dan  pendidikan
            antara  orang-orang  Belanda  dan  penduduk  Indonesia.  Kegiatannya
            yang  lain  adalah  turut  mendirikan Vereniging  Indonesische
            Academici (Persatuan  Kaum  Sarjana  Indonesia)  dan  menerbitkan
            mingguan  Peninjauan  bersama  dr.  Amir.  Kegiatan  tulis-menulisnya
            menghasilkan  buku Indonesia  in  de  Pacifik.  Selanjutnya,  ia  menjadi
            redaksi mingguan politik Nationale Commentaren (1938–42).
                    Pada  masa  pendudukan Jepang,  Ratulangi  diangkat  menjadi
            anggota  Panitia  Persiapan  Kemerdekaan  Indonesia.  Sejalan  dengan
            kebijakan  pemerintah  pendudukan  di  Jakarta,  kesatuan  Angkatan
            Laut Jepang (Kaigun) di Makassar merangkul Lanto Daeng Pasewang,
            Haji  Sewang  Daeng  Muntu,  M.  A.  Pelupessy,  Tio  Heng  Sui  dan  Haji
            Nusu  Daeng  Mannangkasi  sedangkan  Nadjamuddin  Daeng  Malewa
            diangkat menjadi Walikota Makassar pada Mei 1945, melalui wadah
            Syukai-Giin,  Badan  Penasihat  Penguasa  Minsei-Fu.  Sementara  itu,
            pada  akhir  1944,  rombongan  Ratulangi,  Pondaag  dan  Tobing,
            kemudian  menyusul  Mr.  Tadjuddin  Noor  dan  Mr.  A.  Zainal  Abidin,
            tiba dari Jakarta.
                    Kehadiran  tokoh-tokoh  tersebut  memperkuat  barisan  pro-
            kemerdekaan  di  Makassar.  Dibentuk  organisasi  Sumber  Darah
            Rakyat (Sudara) atau ken koku dosikai dalam bahasa Jepang. Wadah
            itu  dipimpin  oleh  Lanto  Daeng  Pasewang,  A.  Mappanyukki  dan
            Tadjuddin  Noor,  sebagai  akibat  kekalahan  demi  kekalahan  yang
            dialami  Jepang  dalam  peperangan.  Sudara  berkembang  pesat,
            meliputi  seluruh  potensi  perjuangan  di  Sulawesi  Selatan  dan
            merupakan  mantel  organisasi  binaan  tokoh-tokoh  pemuda  seperti
            Andi  Mattalatta,  Saleh  Lahode,  Amiruddin  Mukhlis,  Manai  Sophian
            Sunari,  Sutan  M.  Yusuf  SA,  Man,  Y.  Siranamual,  dan  lain-lain.
            Kunjungan Ir. Sukarno dan rombongan ke Makassar (28 April–2 Mei
            1945)  makin  membangkitkan  semangat  kemerdekaan  di  Makassar.
            Melalui  pertemuan  khusus  dengan  tokoh  masyarakat  atau  rapat
            umum  di  lapangan  Hasanuddin,  ribuan  pemuda  menghadiri
            pengibaran bendera Merah Putih.
                    Sementara  posisi  Jepang  dalam  peperangan  makin  terjepit,
            struktur organisasi Sudara disempurnakan yang terdiri dari G. S. S. J.
   271   272   273   274   275   276   277   278   279   280   281