Page 277 - Naskah Gubernur Pertama di Indonesia
P. 277

G.S.S.J Ratulangi        263



               Ratulangi  sebagai  Ketua  Umum;  Mappanyuki  sebagai  Ketua
               Kehormatan;  dan  Lanto  Daeng  Pasewang  sebagai  Ketua  Pusat.
               Pengurus lainnya adalah M. A. Pelupessi (Kepala Bagian Umum), A. N.
               Hadjarati (Kepala  Tata  Usaha),  Abdul  Wahab Tarru  (Kepala  Bagian
               Pendidikan).  Sementara,  Komando  Pusat  organisasi  dijabat  G.  R.
               Pantouw, H. M. Tahir, dan M. Suwang Daeng Muntu; sedangkan pada
               Majelis  Pendidikan  Pusat  duduk  Nadjamuddin  Daeng  Malewa,  dan
               Mr. S. Binol Maddusila Daeng Paraga. Dalam struktur baru Sudara itu
               terlihat  posisi  penting  Ratulangi  dalam  konfigurasi  kepolitikan  di
               Sulawesi.

               INDONESIA MERDEKA


               Pada masa pendudukan militer Jepang, G. J. S. S. Ratulangi ditunjuk
               sebagai  penasihat  pada  Angkatan  Laut  Jepang  berkedudukan  di
               Makassar.  Pengangkatan  itu  merupakan  upaya  pemerintah
               pendudukan  untuk  memanfaatkan  pengaruh  Ratulangi  di  kalangan
               rakyat  Indonesia  Timur.  Dalam  menjalankan  tugasnya,  Ratulangi
               mengumpulkan  pemimpin-pemimpin  Indonesia  yang  berasal  dari
               Indonesia  Timur  seperti  Bali,  Lombok,  dan  Palu  yang  menetap  di
               Jawa. Kepada mereka, ia menitipkan nasib 2.500 orang Minahasa di
               Jawa.  Sebaliknya,  Ratulangi  berjanji  akan  menjamin  keselamatan
               orang  Jawa  yang  berada  di  Sulawesi  Selatan.  Tindakannya  itu
               menunjukkan  bahwa  ia  menaruh  perhatian  besar  terhadap  nasib
               orang-orang Minahasa yang tinggal di rantau.
                      Menjelang  kemerdekaan,  pemerintah  pendudukan  Jepang
               membentuk Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan
               Indonesia  (BPUPKI).  Pembentukan  badan  itu  dapat  dilihat  sebagai
               upaya  pemerintah  militer  Jepang  mendapatkan  sokongan  yang
               maksimal dari bangsa Indonesia. Ratulangi yang yang pada saat itu
               berada di Sulawesi Selatan tidak ikut duduk dalam badan itu. Namun,
               ia aktif dalam sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia pada
               18 Agustus 1945. Ia memimpin misi Sulawesi bersama Andi Sultan
               Daeng Raja dan Andi Pangeran Daeng Parani.
                                                         1
   272   273   274   275   276   277   278   279   280   281   282