Page 280 - Naskah Gubernur Pertama di Indonesia
P. 280
266 Gubernur Pertama di Indonesia
(Borneo/ Kalimantan), Mr. Johannes Latuharhary (Maluku), dan Mr. I
Ktut Pudja (Sunda Kecil).
“MENDARAT” DI SULAWESI
Setelah pelantikan, Gubernur G. S. S. J. Ratulangi bersama rombongan
kembali ke Makassar. Mendarat di lapangan terbang Sapiria,
Bulukumba, Gubernur dan sebagian rombongan menginap di
Empress Hotel, Makassar, selama seminggu. Di hotel itu, Gubernur
Ratulangi bertemu dengan sejumlah tokoh masyarakat di Sulawesi
Selatan guna membahas penyusunan pemerintahan di Sulawesi. Di
antara pemuka masyarakat yang dihimpun Gubernur adalah Lanto
Daeng Pasewang, Saleh Daeng Tompo, Zainal Abidin (ketiganya dari
Sulawesi Selatan), W. S. T. Pondaag (Sulawesi Utara), Josef
Latumahina (Maluku), I. P. L. Tobing (Sumatera), dan Soewarno
(Jawa).
Dari sejumlah tokoh masyarakat yang dihimpun tersebut
tersirat bahwa Gubernur Ratulangi bertolak dari semangat ‘bineka
tunggal ika’ dalam upaya membangun pemerintahan daerah di
Sulawesi. Ia mengumpulkan pemuda untuk membulatkan perjuangan
mempertahankan RI. Hal itu bertentangan dengan sisa-sisa tentara
Jepang dan Sekutu yang bermaksud menjaga status quo; begitu pula
tentara Belanda yang berniat menguasai kembali Sulawesi. Pemuda
Sulawesi menuntut agar kekuasaan segera direbut dari militer
Jepang. Gubernur Ratulangi berupaya melakukan diplomasi dengan
panglima balatentara Jepang. Upaya itu menemui jalan buntu karena
Jepang menolak menyerahkan kekuasaan kepada pemerintah RI.
Tentara Jepang justru mengancam akan melakukan kekerasan
bersenjata jika terjadi perebutan kekuasaan dari pihak Indonesia.
Segera setelah ancaman tersebut, beredar pamflet yang
disebar pesawat-pesawat tempur Sekutu. Isinya, Panglima Tertinggi
Tentara Sekutu, Jenderal Blamey, bersedia menjamin dan
bertanggung jawab dalam upaya “peace and order” kepada tentara
Jepang. Gubernur Ratulangi yang saat itu merasa bahwa pemuda
2
Sulawesi tidak memiliki cukup senjata untuk melakukan

