Page 284 - Naskah Gubernur Pertama di Indonesia
P. 284

270        Gubernur Pertama di Indonesia



                    Dalam menyelesaikan soal Angkatan Laut Jepang di wilayah
            Indonesia Timur—Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Sunda Kecil—
            Panglima  Angkatan  Perang  Sekutu  menugasi  Panglima  Tentara
            Australia Brigadir Jenderal Hilter yang bermarkas di Morotai untuk
            membebaskan tawanan perang dari kamp-kamp Jepang dan melucuti
            tentara Jepang di Timur Besar dan Borneo. Namun, sebelum pasukan
            Australia tiba, para pemuda telah menyerang tangsi-tangsi Angkatan
            Laut Jepang, berusaha merampas atau melucuti senjatanya. Tentara
            Jepang tidak mau begitu saja melepaskan senjatanya sehingga pecah
            pertempuran  antara  pemuda-pemuda  Makassar  melawan  tentara
            Jepang.  Menyusul  pada  21  September  1945  sekitar  250  personel
            tentara Australia mendarat di Makassar di bawah komando Brigadir
            Jenderal Iwan Dougherty.
                    Seperti tugas tentara Sekutu yang lain, pasukan Australia juga
            ditugasi  menciptakan  ketertiban  hukum  dan  keamanan  di  wilayah
            Sulawesi  Selatan  khususnya  Makassar.  Rekapitulasi  tentara  Jepang
            dilakukan di Kamp Kampili dalam bulan itu juga. Tentara Australia
            yang bertugas di Sulawesi Selatan memperlakukan tahanan sipil dan
            militer Jepang secara baik dan bersahabat, berbeda dengan tentara
            KNIL  yang  berlaku  kasar  karena  diliputi  rasa  dendam.  Semua
            tahanan  sipil  direncanakan  ditempatkan  di  Bone,  yang  telah
            disediakan oleh Raja Bone Andi Mappanyukki. Akan tetapi, tahanan
            sipil  itu  kemudian  ditampung  di  Malimpung,  Pinrang,  termasuk
            pemenuhan  kebutuhan  hidupnya.  Hingga  Mei  1946,  sekitar  20.000
            orang  tahanan  sipil,  termasuk  tahanan  militer,  ditempatkan  di
            Malimpung.  Tahanan  sipil  tersebut  secara  berangsur  dikembalikan
            ke Jepang. Sebelum pasukan Australia tiba di Makassar, pegawai sipil
            perempuan asal Jepang disuruh berpakaian perawat sehingga bebas
            dari penangkapan sampai dipulangkan ke Jepang.
                    Bersamaan dengan kedatangan tentara Australia di Makassar,
            ikut pula aparat NICA yang terdiri dari bekas pegawai pamong praja
            dan polisi Belanda yang pernah bertugas di wilayah Indonesia Timur
            (atau  Groote  Oost,  Timur  Besar,  menurut  istilah  Belanda)  untuk
            menjalankan kembali pemerintahan di wilayah itu seperti pada masa
            Hindia Belanda. Markas Besar Tentara Australia menjelaskan bahwa
   279   280   281   282   283   284   285   286   287   288   289