Page 289 - Naskah Gubernur Pertama di Indonesia
P. 289

G.S.S.J Ratulangi        275



               1946,  ibu  kota  Republik  Indonesia  dipindahkan  ke  Yogyakarta
               setelah  sehari  sebelumnya  Presiden  dan  Wakil  Presiden
               meninggalkan  Jakarta;  sementara  Perdana  Menteri  Sjahrir  tetap  di
               Jakarta.  Perkembangan  akseleratif  terjadi  dalam  organisasi
               pertahanan/keamanan. Pada 1 Januari 1946, pemerintah mengubah
               Tentara  Keamanan  Rakyat  menjadi  Tentara  Keselamatan  Rakyat,
               kemudian  diubah  lagi  menjadi  Tentara  Republik  Indonesia  (TRI)
               pada  25  Januari  1946.  Selanjutnya  melalui  Penetapan  Presiden
               Republik  Indonesia  7  Juni  1947,  Tentara  Rakyat  Indonesia  diubah
               menjadi  Tentara  Nasional  Indonesia  (TNI)  terhitung  sejak  3  Juni
               1947.  Pada  hari  itu  juga  Presiden  Sukarno  melantik  Jenderal
               Sudirman  sebagai  panglima  TNI  di  Gedung  Agung  Yogyakarta.
               Perubahan  organisasi  pertahanan/keamanan  itu  menunjukkan
               kebijakan  pemerintah  menghadapi situasi  aktual  yang  berkembang
               saat itu.
                      Di  Sulawesi,  sejalan  dengan  perubahan  TKR  menjadi  TRI,
               dibentuk satuan tempur TRI Persiapan Sulawesi. Pasukannya berasal
               dari  pemuda-pemuda  Sulawesi  yang  sedang  mengikuti  pendidikan
               Sekolah  Perwira  Cadangan  di  Solo.  Satuan  tempur  itu  dinamai
               Resimen  Hasanuddin  bermarkas  pusat  di  Yogyakarta.  Resimen
               Tempur  Hasanuddin  dengan  satuan-satuan  ekspedisinya  disiapkan
               untuk  menghadapi  KNIL  di  Sulawesi  Selatan.  Berdasarkan  mandat
               Jenderal  Sudirman  kepada  Andi  Mattalatta,  dibentuk  TRI  dari
               kelasykaran bersenjata di Sulawesi Selatan dan Tenggara. Kesatuan
               itu pun diberi nama TRI Divisi Hasanuddin melalui konferensi yang
               diadakan  oleh  Andi  Mattalatta  pada  20  Januari  1947  di  Desa
               Paccekke, Soppengriaja, Barru.
                      Pada  akhir  Januari  1946,  seluruh  wilayah  Sulawesi  Selatan
               praktis  dikuasai  NICA  di  bawah  pengawasan  Tentara  Australia.
               Sebagai awal persiapan pembentukan Negara Timur Besar dan untuk
               menjalankan  pemerintahan  sipil  NICA,  ditetapkan  “Ketentuan-
               ketentuan  sementara  yang  menyangkut  pelaksanaan  pemerintahan
               pada  negeri-negeri  swapraja  di  wilayah  Borneo  dan  Timur  Besar”
               (Voorloopige  voorzieningen  met  betrekking  tot  de  bestuursvoering
               in de gewesten Borneo en de Groote Oost; Staatsblad 1946, Nomor
   284   285   286   287   288   289   290   291   292   293   294