Page 286 - Naskah Gubernur Pertama di Indonesia
P. 286
272 Gubernur Pertama di Indonesia
membawahkan semua opsir dan kesatuan NICA yang beroperasi di
Sulawesi Selatan.
Melihat kedatangan kembali orang-orang Belanda, apalagi
dengan meng-intimidasi penduduk dan membuat tindakan
sewenang-wenang, maka pemuda-pemuda yang sudah
terorganisasikan merasa tidak senang dan merencanakan melakukan
perlawanan bersenjata. Atas prakarsa pemuda Abdul Rivai Paerai
yang mengadakan pertemuan dengan Sjamsul Ma’arif dan La Ode
Hadi di rumah Lanto Daeng Pasewang diputuskan untuk menyerang
beberapa sasaran tepat pada Hari Sumpah Pemuda (28 Oktober
1945) pukul 05.00 pagi. Sebagian pemuda itu sudah terlatih pada
masa pendudukan Jepang (bekas Heiho) dan terhimpun dalam
organisasi pemuda. Di antara pemuda pejuang itu adalah Jancy Raib
(bekas Walikota Kotamadya Ujung Pandang 1983–88), M. Kasim DM,
Maulwy Saelan, Wolter Mongisidi, Emmy Saelan, Ranggong Daeng
Romo, dan lain-lain.
Pada 21 September 1945, H. F. Brune dilantik sebagai
Burgermeester Stadsgemeente van Macassar atau Wali Kotapraja
Makassar yang pernah ia jabat sebelum pendudukan tentara Jepang.
Pemerintahan Kota Makassar kembali dijalankan berdasarkan
Stadsgemeente-ordonnantie Buitengewesten (Staatsblad 1938, Nomor
131). Namun, baru dua bulan menjabat, Brune digantikan oleh D. M.
van Zwieten. Pengangkatan pejabat daerah versi NICA tersebut telah
mengabaikan kenyataan sistem pemerintahan Republik Indonesia di
daerah sebagaimana diputuskan dalam sidang PPKI pada masa awal
kemerdekaan. Hal itu juga mencerminkan bahwa NICA tidak pernah
melakukan “koordinasi” dengan pemerintah Republik yang sah. Sejak
kedatangannya di Indonesia, Van Mook memang telah menyatakan
tidak akan melakukan pembicaraan dengan pemimpin Indonesia
yang ditudingnya berkolaborasi dengan Jepang.
Kembalinya KNIL di Makassar menimbulkan ketegangan,
terlebih ketika satu peleton tentara itu—yang ditengarai dari unsur
Ambon—mengendarai empat buah truk keluar dari Fort Rotterdam
menembaki pemuda dan rakyat sipil di tepi jalan Lajangiru, Maccini,
dan Maricaya pada 2 Oktober 1945. Atas peristiwa itu, massa

