Page 287 - Naskah Gubernur Pertama di Indonesia
P. 287

G.S.S.J Ratulangi        273



               pemuda dan rakyat secara spontan melakukan pembalasan terhadap
               orang-orang  Ambon  yang  sudah  lama  menetap  di  Makassar.
               Ironisnya,  orang-orang  Ambon  yang  jadi  sasaran  pembalasan  itu
               sebenarnya pro-RI yang dibina oleh Johannes Latuharhary, Gubernur
               Maluku.  Sementara,  sebelum  peristiwa  itu,  pasukan  KNIL  sudah
               memindahkan  orang-orang  Ambon  yang  dianggap  pro-NICA  ke
               dalam  Fort  Rotterdam,  rumah  sakit  militer,  dan  tangsi-tangsi.
               Tindakan pembalasan itu berlanjut selama beberapa hari. Komandan
               Australia setempat memerintahkan seluruh pasukan Ambon  tinggal
               di  asrama  mereka.  Sebagian  dari  prajurit  itu  kemudian  dibawa
               dengan kapal ke Balikpapan. Pada saat C. P. Maria Romme, Anggota
               Tweede  Kamer  Belanda,  berkunjung  ke  Makassar  pada  24  Januari
               1947,  Benteng  Rotterdam  dihuni  sekitar  1.500  kepala  keluarga
               Ambon.
                      Dengan  adanya  peristiwa  tersebut,  pada  15  Oktober  1945,
               bertempat  di  rumah  Raja  Bone  Arumpone  Andi  Mappanyukki  di
               Jongaya  diadakan  pertemuan  antara  raja-raja  di  Sulawesi  Selatan.
               Pertemuan  itu  dihadiri  sekitar  40  orang  antara  lain  Andi
               Mappanyukki  Arung Pone,  Andi Djemma  Datu Luwu,  I  Depu  Arung
               Gilirang,  Maradia  Tjampalagiang,  Maradia  Balanipa,  Karaeng
               Polombangkeng,  Sultan  Daeng  Raja  Karaeng  Gantarang,  Andi
               Makkasau Parenrengi Datu Suppa Toa, Andi Abdullah Bau Massepe
               Datu Suppa Lolo (putra Andi Mappanyukki), dan lain-lain. Pertemuan
               itu  berhasil  merumuskan  deklarasi  yang  pada  intinya  mendukung
               kekuasaan  Pemerintah  Republik  Indonesia  di  Sulawesi  Selatan  di
               bawah kepemimpinan Gubernur Dr. G. S. S. J. Ratulangi, sebagaimana
               pernah disampaikan kepada Sukarno ketika berkunjung ke Makassar
               (April/Mei 1945).
                      Pada 1 Desember 1945, diadakan kembali Konferensi di Pare-
               Pare  yang  dihadiri  bangsawan  dan  pejuang  Sulawesi  Selatan  yang
               menolak  kedatangan  Belanda.  Sebelum  itu,  di  Palopo,  pada  akhir
               September,  diadakan  rapat  raksasa  yang  dipimpin  oleh  Andi  Kaso,
               Petor Besar Luwu, yang mengeluarkan pernyataan  bahwa (a) Daerah
               Luwu adalah daerah Republik Indonesia; (b) Rakyat/pegawai daerah
               Luwu adalah rakyat dan pegawai Republik Indonesia; dan (c) Badan
   282   283   284   285   286   287   288   289   290   291   292