Page 288 - Naskah Gubernur Pertama di Indonesia
P. 288

274        Gubernur Pertama di Indonesia



            Pemerintah  akan  mogok  jika  NICA  datang  dan  akan  menentang
            bersama  rakyat.  Selanjutnya  pada  5  Oktober  1945  dibentuk  satu
            badan perjuangan yaitu Pemuda Republik Indonesia yang kemudian
            menjelma menjadi Pasukan Keamanan Rakyat.
                    Pada  19  Oktober  1945,  Brigadir  Jenderal  Iwan  Dougherty
            digantikan  oleh  Brigadir  Jenderal  F.  O.  Chilton  sebagai  Panglima
            Tentara  Australia  di  Makassar.  Menyusul  serangan  kembali  para
            pejuang  yang  terdiri  dari  kelompok  Barisan  Berani  Mati  (Bo-Ei
            Taishin),  bekas  Kaigun  Heiho,  dan  pelajar  SMP  terhadap  beberapa
            lokasi  strategis  di  Makassar.  Serangan  selama  tiga  hari  (25–28
            Oktober) itu antara lain menyasar Markas CoNICA, KIS Kampement
            di Mariso, dan Stasiun Radio Mattoanging dan Maradekaya, Empress
            Hotel  (sekarang  Perguruan  Athirah),  Heze  Kiyoku  pantai  Losari
            (Pasanggrahan  Makassar),  dan  Asrama  Polisi  Gowa,  Kantor  Polisi
            samping  Balai  Kota,  dan  Kantor  Gubernur  di  Jalan  Karebosi  (Jalan
            Ahmad Yani) sehingga banyak menimbulkan korban.
                    Sebagai  pembalasan  dari  pihak  Belanda,  pada  27  Oktober
            1945 jam 11.00, markas besar perlawanan rakyat di Jongaya diserbu
            tentara  NICA  sehingga  pemuda  pejuang  memindahkan  markasnya
            keluar  kota  di  Polombangkeng.  Atas  kejadian  itu,  pada  29  Oktober
            1945  Chilton  mengeluarkan  maklumat  yang  menegaskan  akan
            mengambil  tindakan  keras  terhadap  pelanggaran  keamanan  serta
            “kejahatan”  yang  dilakukan  terhadap  pemerintah  militer  Sekutu  di
            Sulawesi Selatan, termasuk kepemilikan dan pemakaian senjata.
                    Sejauh itu, perkembangan situasi di Sulawesi Selatan tampak
            makin  tidak  menentu.  Perubahan  polarisasi  politik  makin  tajam
            setelah  beberapa  tokoh politik  dan  pemuka  masyarakat  tradisional
            bersedia bekerja sama dengan NICA, antara lain Nadjamuddin Daeng
            Malewa,  Baso  Daeng  Malewa,  Abdoellah  Daeng  Mappudji,  Husain
            Puang  Limboro,  Mr.  S.  Binol,  M.  K.  W.  Tambunan,  dan  J.  H.  Hattu.
            Situasi  itu  mendorong  Gubernur  Ratulangi  membentuk  Pusat
            Keselamatan  Rakyat  Sulawesi  pada  November  1945  yang
            diketuainya sendiri.
                    Sementara  itu,  perkembangan  politik  di  tingkat  nasional
            menunjukkan situasi yang merugikan bagi Indonesia. Pada 4 Januari
   283   284   285   286   287   288   289   290   291   292   293