Page 293 - Naskah Gubernur Pertama di Indonesia
P. 293

G.S.S.J Ratulangi        279



                      Dari  sisi  kepentingan  Belanda,  tindakan  pengasingan
               terhadap  Gubernur  Ratulangi  dan  anak  buahnya  itu  dimaksudkan
               untuk  mempercepat  penyerahan  kekuasaan  dari  pihak  Sekutu
               kepada  NICA  yang  berlangsung  pada  10  Juli  1946.  Selain  itu,  NICA
               berencana  mengadakan  konferensi  di  Malino  (15–25  Juli  1946)
               sebagai  upaya  menyemai  embrio  pembentukan  Negara  Indonesia
               Timur. Pemerintahan NICA di Makasar beranggapan bahwa Ratulangi
               dan  beberapa  anggota  Pusat  Keselamatan  Rakyat  di  Makasar  akan
               menghambat  upaya  pemulihan  keamanan  dan  pemerintahan  di
               Makasar.   Sebulan  kemudian  istri  Ratulangi  dan  para  istri  kawan-
                        7
               kawannya  diberangkatkan  ke  Serui,  diperkirakan    jumlah
               keseluruhannya 40 orang.
                      Penangkapan  terhadap  tokoh-tokoh  tersebut  menimbulkan
               protes,  baik  di  Makassar  maupun  pemuda  asal  Sulawesi  di
               Yogyakarta.  Pengasingan  dilakukan  dengan  alasan  sesuai  Pasal  20
               SOB (Staat van Oorlog en Beleg) atau Keadaan Perang untuk menjaga
               ketenangan dan ketertiban umum.
                      Setiba  di  pengasingan,  penguasa  mengeluarkan  maklumat
               kepada  seluruh  penduduk  bahwa  mereka  dilarang  mengadakan
               hubungan  dengan  para  tahanan  tersebut.  Pada  awalnya  mereka
               dijauhi  penduduk  asli  karena  dianggap  berbahaya,  namun  lambat
               laun  penduduk  menyadari  bahwa  para  tahanan  itu  sebenarnya
               orang-orang baik. Seiring waktu, kedekatan masyarakat dengan para
               tahanan mampu membangkitkan kesadaran dan pengertian tentang
               perjuangan  menjadi  satu  negara  dan  bangsa  yang  merdeka.
               Penduduk asli kemudian menyebut para tahanan itu sebagai “tuan-
               tuan merdeka.”
                      Setelah  dua  tahun  berlangsung,  kehidupan  para  tahanan  di
               pengasingan  semakin  baik.  Jika  pada  tahun  pertama  para  tahanan
               tidak  diberi  beras  dan  gula  maka  pada  tahun  berikutnya  mereka
               memperoleh  banyak  sumber  pangan  dari  hasil  bercocok  tanam  di
               Serui. Tantangan bagi mereka ialah membuka lahan dari rimba yang
               penuh  pohon  besar  dan  hewan  melata.  Mereka  bergotong  royong
               melakukan banyak aktivitas bertani dan mengambil lauk ikan yang
               melimpah di Lautan Pasifik.
                                         8
   288   289   290   291   292   293   294   295   296   297   298