Page 290 - Naskah Gubernur Pertama di Indonesia
P. 290

276        Gubernur Pertama di Indonesia



            17,  13  Februari  1946).  Peraturan  ini  membuka  kemungkinan
            pembentukan  daerah-daerah  otonom  yang  pada  asasnya  tunduk
            kepada  perundang-undangan  sebelumnya  yang  berlaku  bagi
            zelfbesturende landschappen, groepsgemeenschap, stadsgemeente, dan
            locaal  ressort.  Hal  itu  pernah  dibicarakan  oleh  Lion  Cachet  dengan
            Ratulangi  pada  18  dan  20  Desember  1945;  dan  dengan  raja-raja
            seluruh  Sulawesi  Selatan  serta  pemuka  masyarakat  pada  29–30
            Desember 1945 di Makassar.
                    Selain  itu  dalam  Staatsblad  1946  Nomor  18  (13  Februari
            1946)  dinyatakan  pemberian  kekuasaan  dan  kebebasan  yang  lebih
            besar kepada daerah swapraja (landschappen), dengan pemerintahan
            yang  dijalankan  memperhatikan  kontrak-kontrak  politik  serta
            aturan-aturan  Swapraja  1938.  Peraturan  itu  menjadi  dasar
            pembentukan  daerah-daerah  otonom  baru  di  Sulawesi  Selatan
            dengan sebutan neo-landschappen, neo-groepsgemeenschap, dan neo-
            stadsgemeente.  Neo-landschap  adalah  suatu  daerah  otonom  yang
            dibentuk  seperti  daerah  otonom  lainnya,  sedangkan  landschap
            (sejati)  merupakan  kekuasaan  asli  yang  dijalankan  oleh  raja-raja
            yang diakui oleh Pemerintah Hindia Belanda.
                    Daerah-daerah  otonom  yang  dibentuk  berdasarkan  surat
            penetapan Gubernemen 14 September 1938, Nomor 29 (Staatsblad
            Nomor 529), meliputi 30 Zelfbesturende Landschappen (Tanah-tanah
            Kerajaan), yaitu Bone, Luwu, Gowa, Buton, Wajo, Soppeng, Sidenreng,
            Sawitto,  Rappang,  Malusetasi,  Suppa,  Batulappa,  Kassa,  Barru,
            Tanette,  Soppengriaja,  Majene,  Balanipa,  Cenrana,  Pembauang,
            Binuang,  Tappalang,  Mamuju,  Tana  Toraja,  Enrekang,  Maiwa,  Alla,
            Bonto Batu, dan Konawe. Sedangkan daerah-daerah yang diperintah
            langsung  oleh  wakil-wakil  Pemerintah  Hindia  Belanda  adalah
            Bonthain,  Pangkajene,  Makassar  dan  sekitarnya  di  luar  Kotapraja
            Makassar.  Jumlah  penduduk  dari  keseluruhan  daerah  itu  adalah
            3.850.000 jiwa.
                           3
                    Berdasarkan  Staatsblad  1946  Nomor  17,  Makassar  berubah
            status  menjadi  Neo-Stadsgemeente  Makassar,  semacam  distrik
            federal  (ibu  kota  tempat  kedudukan  Pemerintah  Negara  Indonesia
            Timur).  Sebagai  kelanjutan  dari  hasil  pertemuan  antara  CoNICA
   285   286   287   288   289   290   291   292   293   294   295