Page 295 - Naskah Gubernur Pertama di Indonesia
P. 295
G.S.S.J Ratulangi 281
Ratulangi juga meyakinkan para elite lokal bahwa Papua adalah
bagian dari wilayah Indonesia yang sudah merdeka pada 17 Agustus
1945. Ratulangi berupaya memperoleh dukungan dari masyarakat di
Serui untuk mempertahankan persatuan dari Sabang hingga
Merauke. Mereka adalah guru- guru asal Ambon dan Ternate serta
pedagang asal Sumatera dan Makassar. Dalam beberapa pertemuan
akhirnya diambil kesepakatan membentuk partai.
Di antara orang Papua yang sering berhubungan dengan
Ratulangi adalah Silas Papare, Stefanus Rumbewas, Benjamin Kajai,
Yakop Thung Tjing Ek, dan Alwy Rahman yang berasal dari Sumatera.
Mendapat kebebasan dari pemerintah setempat, Ratulangi dan
Latumahina bersama sejumlah tokoh Papua di Serui membentuk PKII
pada 29 November 1946. Ratulangi terpilih sebagai Pemimpin
Umum, sedangkan Silas Papare sebagai Ketua, Baldus Dumatubun
sebagai Wakil Ketua. Sekretaris dijabat Alwi Rahman; Bendahara
adalah Achmad Djalali, dan para Komisaris terdiri dari A. Wanane, A.
Waimuri, Benjamin Kajai, dan Paulus Pajawa. Dibentuk pula Dewan
Penasihat yang terdiri dari Barnabas Aninam dan L. R. Tiwo
PKII bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat
Serui dan mempromosikan perjuangan Indonesia merdeka di Serui
dan di Papua pada umumnya. Kehadiran Ratulangi di Serui memiliki
arti penting bagi perkembangan masyarakat setempat. Ia mampu
memotivasi elite Papua di Serui mengenal keindonesiaan. Tidak
kalah penting adalah peran Silas Papare, seorang perawat senior dan
mantan tentara Amerika yang pernah bergabung dalam tentara
Sekutu setelah Perang Dunia. Ia pernah bekerja pada perusahaan
minyak di Sorong dan dipandang memiliki andil besar dalam
melayani pasien orang Indonesia yang bekerja di Sorong tanpa
memandang asal-usul latar belakangnya. Kedudukannya sebagai
tentara Sekutu, menempatkan Papare mula-mula sebagai “lawan”
bangsa Indonesia. Namun, sikapnya berbalik simpati kepada
Indonesia ketika ia bertemu Ratulangi, dan melihat kenyataan
lambannya perkembangan sosial-ekonomi masyarakat Indonesia di
bawah pemerintahan Belanda/NICA. Pada Februari 1946, Silas
Papare dikembalikan ke Serui dan bekerja di rumah sakit.
9

