Page 69 - Konpers Penindakan Obat Tradisional dan Pangan Olahan
P. 69
Judul : DPR Beri Perhatian Serius Maraknya Obat Ilegal Selama Pandemi
Nama Media : sindonews.com
Tanggal : 25 September 2020
Halaman/URL : https://nasional.sindonews.com/read/177074/15/dpr-beri-
perhatian-serius-maraknya-obat-ilegal-selama-pandemi-
1601075390
Tipe Media : Online
Masyarakat harus kian waspada membeli
obat jenis apa pun. Sebab, di masa
pandemi Covid-19 berlangsung, peredaran
obat ilegal justru melonjak tajam,
meningkat 100% dibanding tahun
sebelumnya.
Temuan ini disampaikan Kepala Badan
Pengawas Obat dan Makanan (BPOM),
Penny Kusumastuti Lukito. Bahkan pemain
obat ilegal ini kian berani karena mereka
mengiklankan obatnya secara online. Selain obat-obatan berbahan kimia dan obat
herbal, kosmetik, pangan, dan pangan olahan juga banyak yang ilegal.
Kalangan DPR seperti Wakil Ketua Komisi IX DPR Melkiades Laka Lena dan
anggota Komisi IX DPR Anggia Ermarini memberi perhatian serius terhadap kian
maraknya peredaran obat ilegal. Selain meminta adanya tindakan hukum yang tegas
terhadap para pengedar, mereka mendorong BPOM untuk semakin giat
membangun kesadaran masyarakat agar tidak menjadi korban obat ilegal.
”Produk-produk juga, obat yang sekarang digunakan sebagai obat uji untuk Covid-19
yang seharusnya merupakan obat keras tapi juga diedarkan melalui online,” ungkap
Penny dalam konferensi pers secara virtual ”Penindakan Obat dan Makanan di
Masa Pandemi Covid-19” kemarin.
Penny memaparkan, berdasarkan identifikasi yang dilakukan BPOM, ditemukan
sekitar 50.000 tautan atau link yang mengedarkan iklan-iklan penjualan obat dan
makanan ilegal. Bahkan di antara obat ilegal tersebut ada produk-produk yang
dilarang, seperti hidroksiklorokuin, aktinomisin, dan dexamethasone. Dari jumlah
tersebut, 48.000 tautan berisi iklan obat terutama yang dijadikan pengobatan Covid-
19 seperti hidroksiklorokuin, aktinomisin, ataupun dexamethasone.
Selain itu, selama 2020 BPOM telah melakukan penindakan bersama aparat
keamanan terkait di 13 kota di Tanah Air seperti Jakarta, Surabaya, Denpasar, dan
Manado. Hasilnya ditemukan 1,6 butir obat ilegal senilai Rp4 miliar. ”Pandemi ini
banyak dimanfaatkan oleh para penjahat yang memanfaatkan keberadaan kondisi
krisis dengan memberikan iklan-iklan yang berlebihan, iklan-iklan yang tidak

