Page 220 - Menabung_Ebook
P. 220

Perkembangan Tabanas dan Taska 1970-an


                           Tabanas dan taska sebenarnya hanya merupakan variasi dari gerakan yang
                           bertujuan menarik rupiah dari peredaran yang selama ini telah dilakukan oleh
                           Pemerintah dalam kebijakan moneter, seperti deposito berjangka, tabungan
                           berhadiah, dan sertifikat Bank Indonesia, untuk menjamin stabilitas moneter
                           dan untuk membentuk dana bagi investasi pembangunan.
                              Sebelumnya, pemerintah pada akhir 1960-an melalui deposito berjangka
                           berusaha mengelola uang panas (hot money atau uang yang tersedia untuk
                           berspekulasi) yang dimiliki oleh orang-orang kaya. Uang itu diarahkan kepada
                           penciptaan kredit investasi tanpa mengganggu stabilitas perekonomian yang
                           telah dicapai.  Melalui  Gerakan Tabungan Nasional  (GTN), penghimpunan
                           dana  masyarakat terutama berupa  tabanas  dan  taska meningkat cukup
                           tinggi. Peningkatan dapat dilihat dari bertambahnya jumlah penabung dan
                           nilai tabungan. Selain itu, salah satu tanda keberhasilan GTN sebagai gerakan
                           pendidikan dan penyadaran masyarakat adalah  tertanamnya kebiasaan
                           menabung di semua lapisan masyarakat secara perlahan, tetapi pasti. Bahkan,
                           pada masa itu istilah “tabanas” identik dengan pengertian menabung secara
      Menabung Pada Masa Kemerdekaan  di daerah merasa kewalahan melayani masyarakat untuk menabun, karena
                           umum.

                              Pada awal pelaksanaan tabanas dan taska, bank penyelenggara tabungan


                           persediaan  buku tabungan yang menipis.  Pemerintah telah menyiapkan
                           puluhan ribu buku tabungan, tetapi di luar dugaan kebutuhan buku tabanas
                           terus  bertambah.  Antusias  sambutan masyarakat dan pemerintah daerah
                           dapat kita cermati dalam beberapa berita di bawah ini.

                              1.  “Tunawisma  dan  tunakarya di  kabupaten Ngawi, Jawa Timur  ikut
                                  mensukseskan program tabungan nasional. Kurang lebih 13 KK dan
                                  9  orang bujangan dari kalangan tunawisma dan tunakarya telah
                                  dihimpun  tabungannya  oleh  Dinas  Sosial  Daerah.  Rata-rata  setiap
                                  hari mereka menabung antara Rp 10,00 sampai Rp 50,00 per orang.
                                  Uang yang dikumpulkan dari mereka telah ditabung dalam Tabanas
       210                        dengan menggunakan nama Dinas Sosial Kabupaten Ngawi (Kompas,
                                  14 Oktober 1971).”

                              2.  “Para calon pengikut pemilihan Lurah di daerah Klaten, Jawa Tengah,
                                  pertama kali harus tercatat namanya sebagai penabung Taska atau
                                  Tabanas.  Selain lurah, semua peserta pelamar pamong desa juga
                                  harus  mengikuti  gerakan  tabungan.  Instruksi  ini  menyebabkan
                                  gerakan  Tabanas-Taska menjadi  sangat popular  di  daerah  Klaten,
                                  karena dari 401 kelurahan di daerah itu 130 diantaranya akan segera
   215   216   217   218   219   220   221   222   223   224   225