Page 218 - Menabung_Ebook
P. 218

Pada masa itu, untuk menanggapi fenomena maraknya barang impor
                           yang masuk ke Indonesia, Ketua Bappenas pada saat itu mengatakan bahwa
                           ada yang salah dalam perilaku konsumsi  masyarakat Indonesia.  Jumlah
                           barang impor (barang sekunder) yang masuk ke pasaran Indonesia banyak
                           dan  beraneka ragam.  Barang-barang itu  laku  dibeli  oleh  orang Indonesia.
                           Ketua Bappenas berharap dengan menggiatkan gerakan menabung dan
                           mengurangi impor barang,  pola  konsumsi  masyarakat Indonesia  dapat
                           diperbaiki. Mereka akan lebih memilih barang kebutuhan primer produksi
                           dalam negeri dan menabung sisa uang yang mereka miliki.

                              Lalu, bagaimana usaha jajaran birokrasi dalam mendukung tabanas
                           dan taska? Gambaran ringkas tentang peran birokrasi di daerah dalam
                           penyelenggaraan tabanas dan taska dapat terlihat dari Gubernur Jawa Barat
                           Solihin dalam forum sosialisasi GTN. Gubernur Solihin menyatakan bahwa
                           cara menabung dengan membeli perhiasan atau menyimpan di bawah bantal,
                           sudah tidak pada tempatnya lagi, sebab tabungan semacam itu bersifat mati
                           (statis) dan tidak dapat dimanfaatkan sebagai modal pembangunan. “Marilah
      Menabung Pada Masa Kemerdekaan  pada usaha-usaha yang produktif”, begitu kata Gubernur Solihin.
                           kita bersama-sama menabung, walaupun masing-masing sedikit tapi apabila
                           dikumpulkan akan menjadi besar dan berarti sebagai modal untuk diarahkan


                              Gubernur Solihin juga mengajak masyarakat untuk belajar membiasakan
                           diri hidup berhemat dan melalui GTN masyarakat diajak untuk berpartisipasi
                           dalam  pembangunan  negara melalui  tabungan  yang terjamin dan
                           menghasilkan balas jasa, berupa bunga tabungan. Dengan GTN, masyarakat
                           diajak  menghidupkan kembali  kebiasaan  leluhur,  yaitu  menabung untuk
                           menanggulangi  kesulitan  yang mungkin  terjadi  pada  masa depan  (Pikiran
                           Rakyat, 21 Agustus 1971).

                              Sementara itu, pada  tanggal  20 Agustus  1971,  Gubernur Jawa Timur
                           Mohammad  Noer  bersama  pejabat-pejabat  Muspida  Provinsi  Jawa  Timur
                           menandai  dimulainya gerakan tabanas  dan  taska di  daerahnya. Mereka

       208                 memberi  contoh  kepada masyarakat dengan mencatatkan diri  mereka
                           sebagai penabung. Hal itu dilakukan sesaat sesudah Gubernur Jawa Timur
                           dan  Pimpinan Bank Indonesia  Cabang  Surabaya memberikan penjelasan
                           mengenai tabanas dan taska di hadapan para bupati dan walikota di Jawa
                           Timur (Pikiram Rakyat, 24 September 1971).
   213   214   215   216   217   218   219   220   221   222   223