Page 226 - Menabung_Ebook
P. 226
Selanjutnya, sebagai tindak lanjut pelaksanaan program Perata P3 yang telah berjalan
setahun sebelumnya, pada tanggal 17 Februari 1975, Gubernur Bank Indonesia melantik
Dewan Koordinasi dan Pembina Gerakan Tabungan Nasional (Dekop GTN) Pusat di
kantor Bank Indonesia. Pengurus Pusat Dekop GTN diketuai oleh J.A. Sereh yang pada
saat itu menjabat sebagai Direktur Bank Indonesia, sedangkan Wakil Ketua adalah Dr.
Washington P. Napitulu, Dirjen Pendidikan Luar Sekolah dan Olahraga, sekretaris dan
beberapa anggota pengurus Dekop GTN berasal dari direktur-direktur bank pemerintah
dan perusahaan asuransi. Dalam pelantikan itu, Gubernur Bank Indonesia mengatakan
bahwa Dekop GTN sebagai pelaksana Perata P-3 bertugas mengadakan koordinasi dan
mewujudkan ketentuan dalam piagam kerja sama; memikirkan cara pelaksanaan program
Gerakan Tabungan Nasional; mencari solusi untuk permasalahan yang akan muncul; dan
memberi saran dalam rangka menyempurnakan GTN (Kompas, 18 Agustus, 1975).
Setelah membidik pelajar dan Pramuka, GTN diarahkan kepada ceruk pegawai negeri
yang juga cukup banyak jumlahnya. Pada 1 April 1976 pemerintah menyelenggarakan
tabungan pegawai yang diikuti 1,8 juta pegawai negeri di seluruh instansi pemerintah
di pusat dan daerah. Pegawai negeri akan menabungkan sebagian gajinya ke dalam
tabanas secara sukarela, sesuai dengan kemampuan masing-masing. Ketua Dekop GTN,
J.A. Sereh, berpendapat bahwa jajaran pegawai negeri memiliki potensi yang besar, baik
Menabung Pada Masa Kemerdekaan telah mengikuti program tabanas dan taska, tetapi pemerintah melihat perlu dilakukan
secara kuantitas maupun potensi keuangan yang dapat diarahkan untuk membiayai
pembangunan melalui menabung. Selama ini, memang banyak pegawai negeri yang
perhatian khusus untuk melibatkan pegawai negeri dalam GTN.
Dalam pelaksanannya, kegiatan menabung pegawai dilakukan secara kolektif di setiap
departemen, instansi, atau lembaga pemerintah. Pegawai penabung akan memiliki buku
tabungan pegawai atas namanya masing-masing dan tercatat pada bank penyelenggara
meskipiun menabungnya dilakukan secara kolektif. Dalam setiap departemen akan
dibentuk unit yang dipimpin seorang koordinator yang akan mengurus administrasi
kegiatan menabung para pegawai. Koordinator akan melakukan pemotongan gaji pegawai
secara rutin tiap bulan yang besarannya telah disepakati oleh tiap-tiap pegawai.
Pada setiap akhir bulan, para pegawai harus menyerahkan buku tabungannya untuk
keperluan pencatatan di bank penyelenggara. Nantinya, buku tersebut akan dikembalikan
kepada pegawai. Untuk itu, para pegawai dapat melakukan pengambilan tabungan satu
216 kali dalam sebulan, atau dua kali apabila diperlukan atas seizin koordinator. Tabungan
pegawai sama persis dengan tabanas dan diselenggarakan oleh bank yang sama.
Menurut J.A. Sereh, meskipun gaji pegawai negeri setiap bulan telah banyak dipotong,
pemotongan tersebut diharapkan tidak membebani pegawai karena bersifat sukarela dan
disesuaikan dengan kemampuan pegawai. Lagi pula, uang tabungan yang dipotong secara
otomastis dari gaji mereka tidak akan hilang, tetapi tersimpan aman dalam bank dan terus
berkembang nilainya (Kompas, 2 April 1976).

