Page 251 - Menabung_Ebook
P. 251
Pada masa pesatnya perkembangan perbankan dengan menggunakan
berbagai macam teknologi layanan digital, di Indonesia masih terdapat
sekelompok masyarakat yang tetap menabung dengan cara tradisional. Selain
itu, juga masih ditemui sekelompok masyarakat yang belum tersentuh oleh
lembaga perbankan nasional. Berikut dua kutipan di Kompas, 11 November
2006 dan Kompas, 30 November 2009 yang menggambarkan fenomena
semacam itu.
“Gaya Menabung Sopir di Kota Bandung: Setiap tutup bulan, para sopir
membongkar pintu mobil depan. Mereka mencari koin-koin yang dikumpulkan
selama sebulan untuk membayar keperluan bulanan seperti iuran sekolah Menabung Membangun Bangsa
anak. Demi kemajuan anak-anaknya pula, Dani, seperti para sopir lainnya,
punya trik jitu dalam menabung. Kalau orang biasanya menabung di bank,
celengan ayam, sarung bantal, bawah kasur, dan lainnya, para sopir punya
gaya menabung unik. “Kalau ada penumpang membayar dengan koin Rp
1.000, langsung saya cemplungkan ke dalam celah antara pintu dan kaca
mobil sebagai tabungan,” tuturnya. Dalam sehari kadang ia mendapatkan
tiga koin. Kadang sama sekali tak dapat. Ia pilih koin Rp 1.000 karena nilainya
paling besar di antara uang koin, dan uang itu tidak akan rusak. Menabung
di celah pintu mobil berisiko kemasukan air jika ada hujan lebat. Namun,
keuntungannya, penabung akan malas membongkarnya untuk mengambil
uang tersebut. “Kalau menabung di celengan rumah, godaan untuk
memecahkannya gampang. Sementara menabung di celah pintu mobil sangat
merepotkan,” ujarnya. Dani dan para sopir lain biasanya membongkar pintu
mobil setiap akhir bulan. Uang yang terkumpul cukup banyak, mencapai Rp
80.000-Rp 100.000. Mereka biasa menggunakannya untuk membayar iuran
sekolah anak-anak. Jika suatu hari bertemu sopir sedang membongkar pintu
mobil, mungkin mereka adalah salah satu orang yang sedang membongkar
“celengan”-nya.”
Kisah berikutnya:
“Dicari Bank Untuk Rakyat Kecil: Menabung, tetapi malah buntung.
Begitu nasib ratusan warga Kelurahan Tanah Sereal, Kecamatan Tambora,
dan Kelurahan Krukut, Kecamatan Tamansari, Jakarta Barat. Uang mereka
yang diperkirakan berjumlah Rp 1 miliar hilang karena penyelenggara arisan 241
“paket Lebaran” kabur. Ana (40) kini hanya bisa menyesali mengapa ia menjadi
pengumpul uang arisan milik 20 orang, yang sebagian besar teman kerja
suaminya yang menjadi buruh harian di pergudangan Sunter, Jakarta Utara.
Akibatnya, hingga saat ini teman-teman suaminya menagih uang kepadanya.
“Susah tidur. Tiap hari orang minta uangnya. Pulang kampung juga enggak
tenang. Nanti si Nur datang, siapa tahu uangnya dibagi,” kata Ana, warga RT
10 RW 09 Krukut. Nur yang dimaksud Ana adalah Nurhasanah, warga Jalan
Hanura 6, Kelurahan Tanah Sereal, yang menjadi bandar arisan. Sejak akhir
Agustus lalu, Nur kabur membawa uang milik nasabah arisan bernama “paket

