Page 252 - Menabung_Ebook
P. 252
Lebaran” itu. Ida juga kecewa. Sudah lima tahun ia ikut paket Lebaran yang
bernilai Rp 300.000 per paket. Ia ikut tiga paket (Rp 900.000). Untuk itu, ia
harus menyetor uang Rp 315.000 yang diangsur selama 45 minggu atau Rp
7.000 per minggu. “Selama lima tahun, setiap awal puasa saya terima uang
Rp 900.000 dan sembako isi Indomie, sirup, gula. Uang buat beli baju baru
dan pulang kampung ke Mauk, Tangerang,” katanya.”
“Tiba-tiba, Agustus lalu, Nur kabur. Di tengah pelarian, Nur sempat
membayar seperempat dari uang warga. Setelah itu ia tak berkabar lagi.
Kerugian lebih besar dan tragis dialami Ny Nuryati (50). Warga RT 08 RW
09 Kelurahan Krukut ini kehilangan uang jutaan rupiah. Uang tabungannya
sebagai tukang cuci pakaian bertahun-tahun, plus uang milik peserta arisan
lain yang setiap bulan menitipkan membayar kepadanya, lenyap. Uang warga
yang ia kumpulkan per minggu selama 10 bulan untuk disetorkan kepada
Nurhasanah berjumlah sekitar Rp 40 juta. Ketika Nur lenyap, nasabah langsung
minta pertanggungjawabannya. Perempuan yang tinggal di kampung amat
padat penghuninya itu hanya bisa menangis meraung-raung. Lebaran menjadi
saat istimewa bagi sebagian besar warga. Untuk mendapatkan uang pembeli
kebutuhan puasa dan Lebaran, warga berupaya keras menabung. Minimnya
penghasilan warga yang menjadi pemulung, penjual sayur, buruh cuci baju,
atau pengojek membuat mereka hanya mampu menabung sejumlah Rp
Masa Depan Budaya Menabung bertahun-tahun lalu muncul paket Lebaran uang, bahan kebutuhan pokok,
7.000 sampai Rp 14.000 per minggu. Entah siapa pemilik ide awal, sejak
atau daging di kawasan Kota serta tempat lain, seperti Bekasi dan Surabaya.
Penyelenggaranya adalah warga perseorangan yang biasanya memberikan
iming-iming pemberian bonus bingkisan bahan pokok bagi nasabah. “Tadinya
sih enggak mau ikutan, tapi waktu lihat banyak tetangga bawa paket sembako,
saya pengin juga ikut paket Lebaran. Eh, malah ketipu,” kata Iyah, warga RT
04 RW 15, Kelurahan Tanah Sereal. Semakin banyak warga tertarik ikut paket
Lebaran. Setahun-dua tahun paket berjalan lancar. Saat masuk tahun kelima
atau keenam, ketika peserta paket mencapai ratusan orang, penyelenggara
menghilang. Dua tahun lalu, Nu, warga Krukut, penyelenggara paket Lebaran,
juga menghilang. Agustus lalu Nurhasanah menyusul kabur. Warga gigit jari.
Kondisi ini memperlihatkan warga kalangan bawah tak tersentuh layanan
242 perbankan. Aparat pemerintah bahkan tak melihat ada kebutuhan semacam
koperasi bagi warganya. “Warga saya malu kalau menabung cuma Rp 10.000
ke bank, sedangkan di sini belum ada koperasi,” tutur Ketua RW 15 Tanah
Sereal Sholeh Assegaf. Akibatnya, ketika ada orang mau menyimpankan
uang mereka, warga berduyun-duyun mendatanginya. Mereka bahkan rela
membayar Rp 15.000 per paket agar bisa menabung.”

