Page 250 - Menabung_Ebook
P. 250

pintas. Menurutnya,  akhlak menabung  harus sampai  pada  konsep  untuk
                           menjaga tanah air,  melindungi  dari kerusakan akibat eksploitasi yang
                           berlebihan, serta mendorong bangsa untuk memiliki modal sosial dan modal
                           ekonomi sendiri.

                              Sementara itu,  dalam kesempatan yang sama,  Sri Sultan Hamengku
                           Buwono X dalam kata sambutannya mengajak masyarakat untuk berkaca pada
                           budaya hemat masyarakat Cina. Ia mengutip ungkapan mantan pemimpin
                           Cina Deng Xiaoping yang mengatakan bahwa bagi bangsa Cina, menjadi kaya
                           secara terhormat bukanlah dosa. Menurut Sultan, jika mengkaji pergulatan
                           politik  dan  sosial  di  negeri  Cina  yang  penuh  kekalutan,  telah  membentuk
                           sikap praktis yang keras yang disarikan dalam sistem nilai untuk bisa bertahan
                           hidup dalam kondisi sesulit apa pun. Kerasnya hidup itu melahirkan sikap
                           superhemat  sebagai bentuk  pertahanan  hidup  dengan disiplin  menabung
                           yang  bahkan  tidak  masuk  akal  yang  didukung  oleh  kemampuan  bekerja.
                           Lebih  lanjut  Sultan mengatakan  bahwa menabung  dapat mengubah  sikap
                           dan perilaku generasi muda dari pola konsumtif ke arah pola produktif yang
                           berorientasi masa depan. Perubahan sikap dan perilaku generasi muda, akan
                           berakumulasi menjadi sebuah gerakan dahsyat dalam memupuk tabungan
                           nasional yang pada akhirnya dapat menjadi investasi nasional (Kompas, 27
                           Juli 2004).
       Masa Depan Budaya Menabung  Gadjah Mada, ketika berbicara dalam lokakarya (workshop) “Keberagaman
                              Sementara itu, Dr. Heddy Shri Ahimsa Putra, antropolog dari Universitas


                           Menabung Masyarakat Indonesia” yang diprakarsai Kementerian Kebudayaan
                           dan  Wisata Republik  Indonesia  di  Benteng Vredeburg Yogyakarta, 27 Juli
                           2004,  menilai  dewasa  ini  terjadi  paradoks menabung  dengan  iming-iming
                           hadiah belanja yang diselenggarakan oleh perbankan. Penyebabnya, antara
                           lain, adalah karena adanya reduksi makna menabung oleh bank, yaitu yang
                           semula bersifat spiritual dan sosial menjadi hanya bersifat ekonomi semata.
                           Menurut  Ahimsa, di  satu  sisi,  menabung  bertujuan  untuk penghematan,
                           tetapi di sisi lain bank menawarkan iming-iming imbalan yang pada akhirnya
                           bersifat konsumtif.

                              Paradoks lainnya yang terjadi dalam pola menabung saat ini adalah nilai
       240                 tambah materi dari undian. Menurut Ahimsa undian dapat mendorong orang

                           berkhayal memperoleh sesuatu dalam waktu cepat dan dengan cara yang
                           mudah padahal, menabung merupakan upaya untuk mencapai sesuatu lewat
                           proses yang lama dan menuntut kesabaran. Ada nilai-nilai yang bertabrakan
                           satu  sama lain.  Oleh  karena itu,  untuk mengatasi  paradoks-paradoks ini
                           diusulkan agar  perbankan memilih  cara berpromosi  yang lebih  mendidik
                           untuk ikut bertanggung jawab terhadap pembentukan sikap masyarakat,
                           misalnya, dengan memberikan beasiswa, bukan memberikan hadiah barang
                           konsumtif kepada nasabah (Kompas, 28 Juli 2004).
   245   246   247   248   249   250   251   252   253   254   255