Page 245 - Menabung_Ebook
P. 245

Dalam kondisi krisis ekonomi moneter  periode 1997—1998  dana
                           masyarakat  yang dihimpun  di dalam bank,  termasuk  tabungan terus
                           meningkat, yaitu dari Rp66,3 triliun pada tahun 1996/1997 menjadi Rp72,1
                           triliun  pada  tahun  1997/1998, dan  meningkat lagi  menjadi  Rp79,5 triliun
                           pada tahun 1998/1999.

                              Sebagaimana kita ketahui, krisis moneter yang melanda Indonesia pada
                           tahun 1997 secara eksternal adalah dampak lanjutan dari krisis moneter yang
                           terjadi di Thailand. Sejak bulan Februari 1997, nilai tukar mata uang Thailand
                           (baht) terus merosot terhadap dolar Amerika. Dari sana lah kemudian krisis
                           moneter itu terus menjalar ke negara-negara lain di kawasan Asia. Setelah              Menabung Membangun Bangsa
                           merobohkan Thailand, krisis melanda Hongkong, Korea Selatan, Singapura,
                           Malaysia, Philipina, dan terus bergerak merobohkan rupiah di Indonesia.

                              Pada bulan Juli 1997 nilai rupiah merosot tajam terhadap dolar Amerika
                           dan kondisi itu terus terjadi sepanjang tahun. Bahkan pada tanggal 22 Januari
                           1998 nilai tukar rupiah mencapai Rp16.000,00 per 1 dolar Amerika. Dalam
                           kondisi nilai tukar yang terus merosot itu banyak bank yang mulai mengalami
                           kesulitan likuiditas, terutama bank-bank yang mempunyai pinjaman dalam
                           mata  uang  asing  dan  pinjaman  itu  tidak  dilindungi  dengan  mekanisme
                           hedging (lindung  nilai).  Suatu mekanisme yang menjamin  suatu nilai  kurs
                           untuk penukaran suatu mata uang di kemudian hari sama dengan nilai kurs
                           yang berlaku pada saat kontrak dilakukan (Mintohardjo, 2001).

                              Pada saat datangnya krisis moneter  itu, barulah  disadari bahwa
                           pertumbuhan  ekonomi  Indonesia  yang pesat pada  masa 1990-an telah
                           ditopang  oleh  sektor swasta yang ternyata banyak bergantung  kepada
                           investasi asing berupa pinjaman jangka pendek yang sebagian besar tidak
                           dilindung nilai. Dengan hantaman badai krisis itu dalam sekejap runtuhlah
                           sendi  perekonomian  Indonesia yang sebelumnya disebut-sebut sebagai
                           Macan Asia. Bahkan, ada pula yang menyebut Indonesia sebagai The Asian
                           Miracle. Namun, semua pujian itu sirna terkena amukan badai krisis moneter
                           pada tahun 1997.

                              Pada akhir Agustus 1997 tercatat 20 bank mengalami saldo debit. Dalam
                           perdagangan internasional, beberapa bank memiliki sejumlah L/C yang telah              235
                           jatuh tempo dan tidak mungkin lagi memenuhi kewajiban mereka. Mereka
                           terpaksa meminta bantuan likuiditas dari Bank Indonesia dalam kapasitasnya
                           sebagai lender of the last resort. Kondisi perbankan di tanah air makin genting,
                           bak telur di ujung tanduk karena kepercayaan masyarakat terus menguap.
                           Masyarakat mulai mengamankan simpanannya dan terus menarik dananya
                           dari bank yang kesulitan likuiditas.
   240   241   242   243   244   245   246   247   248   249   250