Page 240 - Menabung_Ebook
P. 240
kemandirian bangsa. Agar dapat terus membangun, penerimaan dari
sumber dalam negeri harus tumbuh dan bangsa Indonesia harus memiliki
tabungan agar dapat membangun secara mandiri. Pada masa itu, selain
masalah kemandirian yang hendak dicapai, penerimaan dalam negeri harus
ditingkatkan karena makin sulitnya memperoleh pinjaman luar negeri akibat
dari banyaknya negara berkembang lain yang juga mencari pinjaman.
Dalam kesempatan yang sama Presiden juga menyinggung isu yang
timbul di kalangan masyarakat, bahwa seakan-akan pemerintah mengajak
masyarakat menabung sebanyak-banyaknya dan kemudian uang itu dipakai
mengangsur utang luar negeri. Presiden Soeharto minta masyarakat tidak
terpengaruh berbagai isu yang mengatakan bahwa tabungan mereka akan
dipakai untuk membayar utang luar negeri. Di hadapan 54 pelajar penabung
teladan dari seluruh Indonesia, Presiden meyakinkan bahwa tabungan
masayarakat benar-benar untuk membangun. Utang luar negeri akan dibayar
dengan dana yang berasal dari nilai tambah hasil pinjaman biasa. “Pinjaman-
pinjaman itu akan dipakai membiayai pembangunan berbagai proyek yang
Menabung Pada Masa Kemerdekaan Kantanas di Balai Sidang Jakarta.
kemudian menghasilkan nilai tambah,” begitu kata Presiden dalam forum
Lebih lanjut kepada pelajar SD, SLTP, dan SLTA yang hadir pada sesi temu
wicara, Presiden mengatakan bahwa pemerintah memiliki sekitar l80 BUMN
yang nilai asetnya Rp359 triliun atau sekitar 179 miliar dolar AS. Bila rakyat
sudah tidak mau meminjam dari luar negeri, sebagian kecil aset itu bisa
saja dijual. Dicontohkan, jika sepertiga saja aset itu dijual, sudah terkumpul
hampir 60 miliar dolar AS. Menurut Kepala Negara, jika pinjaman luar negeri
yang tiap tahunnya sekitar lima miliar dolar ingin dihapuskan, dana 60 miliar
itu cukup untuk mengganti pinjaman selama 12 tahun. Presiden sekali lagi
menekankan, “Jadi, tabungan tidak digunakan untuk membayar utang, tetapi
untuk benar-benar membangun. Kita harus membangun karena masih ada
yang miskin. Kita telah berusaha memerangi kemiskinan, tetapi toh belum
bisa keseluruhan selama 25 tahun. Masih ada 13,7 persen, kurang lebih 26
230 juta rakyat kita yang masih miskin” (Kompas, 3 September 1995).
Ciri khas dari Presiden Soeharto dalam setiap temu wicara bersama
masyarakat Indonesia adalah keakraban yang ia bangun melalui perbincangan
dengan beberapa orang yang hadir. Hal itu dapat diamati sebagaimana terlihat
dalam dialog Presiden dengan para pelajar penabung teladan berikut ini.

