Page 242 - Menabung_Ebook
P. 242
Pada tahun 1996, satu tahun menjelang krisis ekonomi dan moneter,
dalam pembukaan Kantanas ke-5 di Surabaya pada tanggal 11 Agustus
1996, Gubernur Bank Indonesia, J. Soedradjad Djiwandono, menegaskan
bahwa motivasi untuk menabung bagi masyarakat tidak bisa datang sendiri,
tetapi diperlukan pembinaan, terutama generasi muda yang harus dididik
hidup berhemat untuk memobilisasi dana untuk pembangunan. Menurut
Soedradjad, kebiasaan gemar menabung harus dibina sejak dini, terutama
pada anak didik dan Pramuka, seperti melalui Pekan Tabungan Nasional
(Kantanas) itu. Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, pemerintah melalu
Gubernur Bank Indonesia menekankan bahwa gerakan menabung terkait
erat dengan upaya memperkuat kemampuan pendanaan pembangunan.
Pada kesempatan itu Soedradjad mengulas kembali, bahwa gerakan
menabung sebenarnya telah dimulai tahun 1971 dengan diperkenalkannya
berbagai jenis tabungan, seperti tabanas dan taska. Sementara itu,
Kantanas yang dimulai 1992 merupakan konsentrasi gemar menabung yang
ditanamkan pada pelajar dan Pramuka. Pada waktu itu, menurutnya iklim
menabung telah tertata dengan baik. Disebutkan, sejak Pakto 1988, dari 111
Menabung Pada Masa Kemerdekaan macam produk tabungan, dan pada 1996 telah menjadi 280 macam produk
bank dengan cabangnya sebanyak 2.500 kantor bank, kini telah menjadi 240
bank dengan 6.500 cabang. Jenis tabungan pada tahun 1990 hanya ada 60
tabungan.
Dalam pidatonya, Soedradjad juga mengatakan bahwa pembangunan
tidak bisa lepas dari upaya mobilisasi dana sendiri. Misalnya dari rencana
investasi selama Pelita VI sebesar Rp 815 triliun, 70 persen di antaranya
diharapkan dari masyarakat. Meskipun pembiayaan dan tabungan pemerintah
setiap tahun bertambah, tapi menurut hitungan Bank Indonesia jumlahnya
masih kurang. Karena itu diperlukan tabungan masyarakat yang lebih besar.
Gubernur Bank Indonesia itu menyebutkan rasio pengeluaran investasi
dengan produk domestik bruto (PDB) sekitar 28,5 persen, sedangkan rasio
tabungan terhadap PDB hanya 25,5 persen. Kesenjangan antara investasi dan
tabungan ini dipenuhi dengan penanaman modal asing (PMA) dan pinjaman
232 luar negeri. Dalam proses tinggal landas pembangunan ekonomi, makin lama
perekonomian Indonesia harus makin mandiri. Oleh karena itu, diperlukan
tabungan masyarakat untuk mewujudkan kemandirian itu (Kompas, 12
Agustus 1996).
Demikian perkembangan dana yang berhasil dihimpun oleh perbankan
dalam periode 1990-an, termasuk dana tabungan masyarakat.

