Page 409 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 409

ibadah itu. Dayah sebagai tempat   pengajaran Islam di Aceh. Ulama dari   perkembangan intelektual Islam di   tingkatan menengah. Di dalam ‘dayah’
 ibadah, pekarangannya kadang-kadang   dua dayah ini adalah guru-guru yang   Nusantara, dan Asia Tenggara secara   diajarkan tata bahasa Arab, fikih,
 dipagari dengan tembok rendah persegi   paling dihormati dan karya-karya   umum.  tauhīd, usul al-fikih, mantiq, balaghah,
 panjang.  Di dekat dayah tersebut sering   keagamaan yang mereka hasilkan   dan tasawuf. Dayah untuk pelajaran
 182
 186
 terdapat balee, yakni tempat duduk   diakui secara luas.  Sehingga tidaklah   Di samping ‘dayah’, di Aceh juga terdapat   tingkat menengah disebut ‘rangkang’,
 yang lebih tinggi dan beratap, yang   mengejutkan bahwa ketika Snouck   istilah-istilah ‘meunasah’, ‘rangkang’,   sedangkan dayah untuk pelajaran
 dimaksudkan sebagai gedung pembantu   Hurgronje datang ke Aceh pada akhir   dan ‘balee’ yang juga menunjuk   yang tingkatannya lebih tinggi disebut
 tempat ibadah dan tempat tinggal pria. 183  abad ke-19, dia menyaksikan bahwa   kepada lembaga-lembaga pendidikan   ‘balee’. Di ‘balee’ mata pelajaran yang
 terdapat cukup banyak dayah yang   tradisional. Karena itu, di wilayah itu   diberikan sudah agak “terspesialisasi”
 Berdirinya dayah  menandai permulaan   didirikan di seantero negeri, dengan   dikenal istilah ‘teungku meunasah’,   dan menerapkan sistem diskusi untuk
 184
 pemisahan antara agama dan politik,   pengaruh besar dan langsung terhadap   ‘teungku di rangkang’, dan ‘teungku   memecahkan permasalahan agama (bahs
 yang masing-masing menjadi wilayah   masyarakat. 187  di balee’ untuk menunjuk ulama   al-masail al-dīniyyah). 193
 ulama dan uleebalang. Semula bertempat   yang memimpin lembaga pendidikan
 di wilayah uleebalang, dayah menyebar   Dayah, seperti halnya surau dan   tradisional tersebut.  ‘Meunasah’   Terkait rangkang, lembaga ini muncul
                              191
 lebih luas ke hampir semua wilayah   pesantren, berpusat di daerah-daerah   merupakan istilah yang paling menarik   seiring semakin banyaknya para
 di Aceh, yang pada gilirannya   terpencil. Dayah Tanoh Abay, misalnya,   karena dekat dengan istilah ‘madrasah’.   penuntut ilmu, termasuk para pengajar
 berkontribusi pada penyebaran Islam   dibangun dekat Gunung Seulawah,   Terdapat dugaan ‘meunasah’ berasal   yang tinggal di sekitar meunasah atau
 188
 kepada masyarakat Aceh, termasuk   sekitar 50 km dari Banda Aceh.  Hal   dari kata ‘madrasah’ dan merupakan   dayah. Kondisi ini memungkinkan
 orang-orang di wilayah pedalaman.   yang sama terjadi dengan Dayah Tiro.   corrupt form dari istilah madrasah,   mereka membentuk sebuah kompleks
 Ulama, pemimpin dayah, muncul   Ia dibangun di Pidie di Kampung Tiro,   meskipun jelas bahwa dugaan ini   pendidikan tersendiri. Rangkang
 sebagai tokoh agama yang sangat   oleh seorang ulama bernama Syekh   masih membutuhkan penelitian lebih   adalah asrama para murid penuntut
 disegani yang berkonsentrasi pada   Faqih Abdul Wahab al-Haitami, yang   lanjut.  ‘Meunasah’ sendiri sebenarnya   ilmu tersebut. Sebagai penginapan,
                  192
 pengajaran agama kepada masyarakat   kemudian lebih dikenal dengan nama   merupakan tempat ibadah yang dapat   rangkang disediakan untuk siswa yang
 189
 dan menjamin penerapan ajaran-ajaran   Teungku Chik Tiro.  Dayah memberi   dijumpai di setiap perkampungan di   kebanyakan berasal dari luar kota.
 agama secara benar. 185  ulama kesempatan yang luas untuk   Aceh. Sebagaimana tempat ibadah   Walaupun kadang-kadang jumlah siswa
 menghadirkan perumusan Islam yang   lain—seperti ‘langgar’ dan ’musahalla’ di   tidak mencapai ratusan, mereka akan
 Sejarah mencatat, Dayah Batu Karang,   mendalam kepada para penduduk   Jawa—‘meunasah’ juga berfungsi sebagai   kesulitan seandainya tempat tinggalnya
 Dayah Tanoh Abay, dan Dayah Tiro   kampung.  Dengan demikian, ulama   tempat belajar agama, terutama tempat   di meunasah, karena terbatasnya
 190
 adalah dayah-dayah yang paling   dayah, seperti halnya para ulama   belajar membaca al-Qur’an dan dasar-  ruangan. 194
 terkenal di Aceh. Snouck Hurgronje   pesantren di Jawa dan ulama surau di   dasar keislaman lainnya.
 menyebut ketiga dayah ini, menganggap   Sumatera Barat, memiliki posisi kuat   Umumnya, rangkang dibangun dengan
 dayah-dayah tersebut—khususnya   di tengah-tengah masyarakat desa.   Murid-murid ‘meunasah’ mempelajari   bentuk seperti rumah kediaman, tetapi
 dayah Batu Karang dan Dayah Tiro—  Pusat-pusat pendidikan Islam ini   ajaran dasar Islam, sedangkan ‘dayah’   sangat sederhana. Tidak, sebagaimana
 berkontribusi dalam perkembangan   terus berkembang, menjadi jantung   mempelajari ajaran Islam pada   halnya rumah, memiliki tiga lantai yang



 396  Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   397
   404   405   406   407   408   409   410   411   412   413   414