Page 212 - Final Sejarah Wilayah Perbatasan
P. 212

Amerika  Serikat untuk menjamin  kawasan tersebut tetap stabil.  Walaupun pihak
                 Gedung  Putih  mengaku  bahwa  penempatan  tersebut  untuk memfasilitasi  latihan
                 militer  bersama  dengan  Australia,  sangat  dimungkinkan  tentara-tentara  tersebut
                 dikirim ke Laut China Selatan jika konflik atau perang terjadi (Raharjo, 2014).

                 Selain  Amerika  Serikat, India juga disinyalir  turut bermain  dan  memperumit
                 dinamika  hubungan  antarpara  pihak  di  Laut China  Selatan.  Kedekatan  hubungan
                 India dengan Vietnam menjadi satu hal yang penting. Hubungan Vietnam dengan
                 Tiongkok dalam sengketa ini bersifat konfliktual. Dukungan India terhadap Vietnam
                 menjadi  signifikan dan ancaman bagi  Tiongkok karena  India  memiliki  kapasitas
                 ekonomi dan militer yang cukup besar. Pada Juli 2011, kapal laut India, INS Airavat
                 yang bergerak ke Nha Trang di selatan Vietnam diperingatkan oleh Tiongkok agar
                 menjauh dari perairan Tiongkok. India sendiri menanggapinya dengan mengatakan
                 bahwa India mendukung kebebasan pelayaran di perairan internasional, termasuk di
                 Laut China Selatan sehingga ia punya hak untuk melewati perairan internasional di
                 Laut China Selatan tersebut (Buszynski, 2012; Raharjo, 2014).

                 Selain aktor negara, aktor nonnegara berupa perusahaan-perusahaan minyak juga
                 turut terlibat dalam sengketa ini. Philex Mining Corp, Tiongkok National Offshore
                 Oil Corp., dan Vietnam Oil and Gas Group (Petrovietnam) saling bersaing untuk
                 melakukan survei dan mengebor wilayah-wilayah di Laut China Selatan yang masih
                 disengketakan (Barta dan Larano, 2011; Raharjo, 2014).

                 Dengan kompleksitas permasalahan di atas, tampaknya Sengketa Laut China Selatan
                 belum akan selesai dalam waktu dekat. Hal ini  berarti juga ancaman terhadap
                 kedaulatan Indonesia di Natuna masih akan hadir dari berbagai aktor yang bermain
                 dalam sengketa tersebut. Dalam konteks ini, pembuktian sejarah kepemilikan Natuna
                 oleh Indonesia (termasuk pendahulunya yaitu VOC, Hindia Belanda, dan Jepang)
                 seperti yang dibahas pada bab sebelumnya menjadi bersifat strategis dan mendesak.




                 C.  Natuna dalam Dinamika Global

                 Hak Lintas Damai di Jalur Perdagangan Dunia

                 Natuna  dan  Laut China  Selatan  sudah  menjadi  jalur  perdagangan  dunia  yang
                 menghubungkan wilayah Asia Timur hingga Mediterania sejak milenium pertama,
                 sebelum  terjadinya  kolonialisme  bangsa  Eropa  di  Asia  Tenggara  (Manguin,  1993:
                 255). Oleh  karena  itu,  ketika  Indonesia  memperkenalkan  dan  memperjuangkan
                 konsep  Negara  Kepulauan  dalam pertemuan-pertemuan  menuju UNCLOS 1982,
                 ada kekhawatiran bahwa kapal-kapal dari negara lain tidak dapat melewati perairan
                 Natuna karena sudah berada di bawah kedaulatan dan yurisdiksi Indonesia. Padahal,
                 Natuna  merupakan  bagian  dari  jalur tercepat yang menghubungkan  wilayah  Asia





                 Mutiara di Ujung Utara                                                          195
   207   208   209   210   211   212   213   214   215   216   217