Page 213 - Final Sejarah Wilayah Perbatasan
P. 213

Timur menuju Samudra Hindia  (Asia  Selatan,  Timur Tengah,  Afrika,  termasuk
                            hingga ke Terusan Sues).

                            Kekhawatiran ini kemudian diakomodasi dalam beberapa pasal di UNCLOS 1982.
                            Pada Pasal 52, disebutkan bahwa kapal semua negara menikmati hak lintas damai
                            melalui perairan kepulauan. Pada Pasal 18 dijelaskan bahwa hak lintas damai di sini
                            berarti lintas harus terus-menerus, langsung serta secepat mungkin. Namun, lintas
                            dapat pula mencakup berhenti dan buang jangkar sepanjang hal tersebut berkaitan
                            dengan  navigasi  yang  lazim  atau  perlu  dilakukan  karena  keadaan  terpaksa  (force
                            majeure)  atau  mengalami  kesulitan  atau  guna  memberikan  pertolongan  kepada
                            orang, kapal atau pesawat udara yang dalam bahaya atau kesulitan.

                            Jika aturan di atas diterapkan secara sporadis, kapal-kapal asing dapat melalui wiayah
                            perairan  kepulauan  yang  begitu luas  sehingga  sulit untuk diawasi  atau dikontrol
                            melanggar  kedaulatan  Indonesia  atau tidak.  Oleh  karena  itu,  Pasal  53 UNCLOS
                            mengatur bahwa negara kepulauan “dapat menentukan alur laut dan rute penerbangan
                            di atasnya, yang cocok digunakan untuk lintas kapal dan pesawat udara asing yang
                            terus-menerus  dan  langsung serta  secepat mungkin  melalui  atau di  atas  perairan
                            kepulauannya dan laut teritorial yang berdampingan dengannya”. Pelaksanaan lintas
                            kapal dan pesawat dilakukan secara terus-menerus, langsung dan secepat mungkin
                            melalui atau di atas perairan kepulauannya dan laut teritorial yang berdampingan
                            dengannya.  Kapal  dan  pesawat udara  yang melakukan  lintas  melalui  alur laut
                            kepulauan tidak boleh menyimpang lebih dari 25 mil laut ke dua sisi garis sumbu alur
                            laut. Kapal dan pesawat udara tersebut juga tidak boleh berlayar atau terbang dekat ke
                            pantai kurang dari 10% jarak antara titik-titik yang terdekat pada pulau-pulau yang
                            berbatasan dengan alur laut tersebut.

                            Atas  dasar  ketentuan  tersebut,  Indonesia  kemudian  mengusulkan  tiga  Alur  Laut
                            Kepulauan  Indonesia  (ALKI) beserta  cabang-cabangnya  yang dapat digunakan
                            untuk pelaksanaan  Hak  Lintas  Alur  Laut  Kepulauan  melintasi  Perairan  Indonesia
                            kepada  Komite Keselamatan  Maritim  (Maritime  Safety  Committee). Pada  sidang
                            ke-69, Komite Keselamatan Maritim akhirnya menerima usulan Indonesia tersebut
                            melalui Resolusi MSC. 72 (69). Usulan tersebut kemudian disahkan melalui Peraturan
                            Pemerintah Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2002 tentang Hak dan Kewajiban
                            Kapal dan Pesawat Udara Asing dalam Melaksanakan Hak Lintas Alur Laut Kepulauan
                            Melalui Alur Laut Kepulauan yang Ditetapkan. Natuna sendiri menjadi bagian dari
                            ALKI I dan ALKI Cabang IA. ALKI I dapat dilalui untuk pelayaran dari Laut China
                            Selatan melintasi Laut Natuna, Selat Karimata, Laut Jawa dan Selat Sunda ke Samudra
                            Hindia atau sebaliknya. Adapun ALKI Cabang IA dapat digunakan untuk pelayaran
                            dari Selat Singapura melintasi Laut Natuna, Selat Karimata, Laut Jawa, dan Selat Sunda
                            ke Samudra Hindia atau sebaliknya atau melintasi Laut Natuna ke Laut Cina Selatan
                            atau sebaliknya.


                            Dengan hadirnya ALKI I dan IA tersebut, arus perdagangan yang melalui jalur Laut
                            China Selatan, terutama dari kawasan Asia Timur menuju Asia Selatan, Timur Tengah,


              196                                              Sejarah Wilayah Perbatasan  Kepulauan Natuna
   208   209   210   211   212   213   214   215   216   217   218