Page 218 - Final Sejarah Wilayah Perbatasan
P. 218
Tabel 13. Daftar Latihan Militer Bersama di Perairan Natuna dan Sekitarnya
No Waktu Lokasi Negara yang Terlibat Keterangan
1 29 Maret – Batam, Indonesia, Malaysia, Multilateral Naval Exercise
Anambas Singapura, Brunei Darussalam, Komodo 2014, merupakan
4 April 2014 dan Natuna Thailand, Filipina, Vietnam, latihan multilateral pada
Kamboja, Myanmar, Laos, aspek nonwarfighting yaitu
India, Jepang, Korea Selatan, penangulangan bencana
Selandia Baru, Amerika alam (Disaster relief) dan
Serikat, Tiongkok, Rusia, dan bakti sosial (Humanitarian
Australia Civic action)
2 20 Mei 2018 Natuna Indonesia dan Amerika Serikat KRI Raden Eddy Martadinata
(REM)-331 dan kapal perang
US Navy (Angkatan Laut
Amerika Serikat) yaitu USNS
Rappahannock-204
3 2-6 September Teluk Indonesia, Malaysia, The ASEAN Maritime
2019 Thailand, Singapura, Brunei Darussalam, Exercise (AUMX), Indonesia
Laut China Thailand, Filipina, Vietnam, tidak mengirimkan kapal
Selatan, Kamboja, Myanmar, Laos, dan dan hanya mengirimkan tim
Singapura Amerika Serikat observasi.
Sumber: Larno (2014), JPNN (2018), Mahadzir (2019)
Namun, hal yang perlu diwaspadai dari pelaksanaan latihan militer bersama adalah
potensi bocornya profil kekuatan militer Indonesia kepada militer negara lain, baik
kapasitas personel dan kecanggihan senjata hingga peta instalasi militer strategis. Oleh
karena itu, Indonesia perlu berhati-hati dalam memilah negara-negara yang dapat
dijadikan mitra latihan militer bersama. Selain itu, Indonesia juga perlu menyiapkan
strategi agar kekuatan militernya tidak diketahui secara pasti oleh negara lain.
Sebagai penutup, perlu ditegaskan kembali bahwa dalam kancah politik internasional,
Natuna memiliki peran strategis bagi Indonesia dalam hubungan bilateral dengan
Malaysia dan Indonesia, dalam hubungan regional di Asia Tenggara terutama terkait
dengan kasus Sengketa Laut China Selatan dan dalam hubungan multilateral terutama
aspek perdagangan melalui laut dan penanganan kejahatan transnasional di laut.
Dalam konteks bilateral, belum selesainya kesepakatan batas ZEE dengan Malaysia
dan Indonesia menjadi ganjalan yang dapat berdampak negatif berupa pelanggaran
kedaulatan yang dapat memanaskan hubungan diplomatik dengan negara tersebut.
Dalam konteks regional, Natuna masih harus menghadapi dampak negatif dari
kondisi belum selesainya sengketa Laut China Selatan, terutama berkaitan dengan
klaim Tiongkok yang beririsan dengan wilayah yuridiksi ZEE Indonesia. Pada
poin ini, pembuktian sejarah kepemilikan Indonesia atas Natuna menjadi kunci
bagi diplomasi Indonesia jika terjadi akselerasi sengketa hingga dibawa ke lembaga
internasional seperti Mahkamah Internasional atau Permanent Court of Justice.
Mutiara di Ujung Utara 201

