Page 222 - Final Sejarah Wilayah Perbatasan
P. 222

BAB VI




                                                                  PENUTUP






                 Negara  Kesatuan  Republik  Indonesia  (NKRI)  yang  ada  seperti  sekarang  ini  tidak
                 terbentuk secara  tiba-tiba.  Masalah  wilayah  NKRI  yang telah  diperjuangkan  oleh
                 founding fathers negara  ini  diperoleh  melalui proses diplomatik yang panjang,
                 melelahkan, dan memerlukan strategi yang  tepat. Hal itu terlihat dari luas wilayah
                 Indonesia yang sejak Proklamasi Kemerdekaan Indonesia belum terpikirkan batas-
                 batas  wilayahnya  karena  pemimpin  negara  kita saat itu masih  sibuk memikirkan
                 kondisi negara yang dalam keadaan darurat, terutama setelah Jepang menyerah kalah
                 pada Perang Dunia II. Batas-batas wilayah negara belum secara terperinci dibahas.
                 Dalam Sidang BPUPK tahun 1945 telah diingatkan bahwa batas wilayah terdepan
                 negara ini harus dipelihara, seperti diibaratkan bahwa negara ini merupakan suatu
                 rumah dan pulau-pulau terdepan merupakan pagar dari rumah yang bernama negara
                 Republik Indonesia. Pagar terdepan harus dilindungi agar warga negara yang berada
                 di dalamnya tidak diganggu oleh pihak-pihak dari luar.

                 Sejak  diberlakukannya kesepakatan Konferensi Meja Bundar pada 27 Desember 1949,
                 terdapat 3 wilayah darat Indonesia yang merupakan batas wilayah yang dibuat oleh
                 pemerintah Belanda dengan pemerintah Eropa lainnya, yakni berdasarkan Traktat
                 Borneo (1891) perjanjian antara pemerintah Hindia Belanda dan Inggris, perjanjian
                 antara pemerintah Belanda dan pemerintah Portugal untuk wilayah di Timor Timur
                 (sejak  1702 dan  diperbaharui  beberapa  kali  dengan  pemerintah  Belanda)  dan
                 perbatasan wilayah  Papua sebelah  utara dengan pihak  Jerman (1918)  dan Papua
                 Selatan (Merauke) dengan pihak Inggris (1898). Sementara itu, batas wilayah lautnya
                 diatur berdasarkan Peraturan Lingkup Laut dan teritorial Maritim (Territoriale Zee en
                 Maritieme Kringen Ordonnantie atau TZMKO) yang diberlakukan mulai 18 Agustus
                 1839. Peraturan  ini  merupakan  penyempurnaan  dari  peraturan  sebelumnya  yang
                 dibuat pada 1935 dan 1938.

                 Sejak diberlakukannya TZMKO 1939, batas wilayah laut yang membentang sampai 3
                 mil laut dari garis air terendah dari pulau termasuk dalam wilayah Hindia Belanda.
                 Setelah  Republik  Indonesia  Serikat dibubarkan,  pemerintah  Indonesia  kembali
                 kepada Undang-Undang Dasar 1945. Pada era itu, batas 3 mil laut masih berlaku
                 hingga pemerintah Indonesia merasa perlu untuk mengoreksi undang-undang itu.



                 Mutiara di Ujung Utara                                                          205
   217   218   219   220   221   222   223   224   225   226   227